Jumat, 08 Februari 2013

di Negeri Asing bernama Sudan

Sudan sejak 10 tahun terakhir sudah menjadi lirikan mahasiswa Indonesia untuk mengambil dan menimba ilmu di negeri Dua Nil ini.. Gak percaya? check this video.. :)


Jumat, 11 Januari 2013

SUDAN, kekaguman yang tercipta karena kesederhanaannya


Alhamdulillah, it has been 3 weeks I've been leaving in Khartoum, Sudan. Accompanying my husband to complete his study in master degree in here. Make a thesis been done in September 2013, insyaAllah.
Pastinya, berada di Sudan menjadi hal yang amazing dan asing yang berkesan pertama kali untukku. Bagaimana tidak, si aku ini orang yang gak pernah naik pesawat sebelumnya. Beberapa kali keluar kota di Indonesia pun kebanyakan naik kereta, atau paling banter naik kapal laut lah. Ngerasain naik kapalnya juga ketika usia 4 tahun, jadi tidak bisa memberikan kesan bangga juga karena sudah berkelana jauh. Tapi setelah bersuami, dan kesepakatan setelah menikah adalah aku ikut bersama suami 3 bulan setelah menikah, menemani beliau menyelesaikan studinya, akhirnya pun aku merasakan bagaimana rasanya terbang melayang dibawa oleh burung besi besar menuju Afrika. I try my first time flight by plane, into Sudan, Afrika! The country which is far far away from Indonesia. Yang agak bikin deg-deg-an pula ada calon baby di dalam perut yang ikut terbang bersama bundanya. Hmm.. terbayang bagaimana dag dig dug-nya memikirkan semoga sang janin yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh ayahnya being fine.
Touch down in Sudan, dan Alhamdulillah sedang musim dingin. Bayangan panas terik matahari yang memanggang ternyata belum Allah berikan dengan kenyataannya untukku ketika sampai dan bertemu dengan sang pangeran yang menunggu untuk menyambutku hangat. Hawa dinginnya macam di pegunungan lah. Gak ada salju- saljunya juga.. :D
 Selama perjalanan hanya bahasa inggris yang menjadi andalanku untuk berkomunikasi. Dan pastinya ketika di Sudan pun aku masih belum bisa komunikasi dengan bahasa arab. Hasil pelajaran bahasa arabku saat SD dan SMP dulu benar-benar hilang dari ingatan. Paling banter yang diingat cuma  في اسبوع القادم انشاء الله (fii usbuu’il qoodim, insya Allah) yang artinya minggu depan insya Allah.
rikzah itu macam bajaj di Jkt, tp designnya lbh elegan.:D
Amjad, angkutan lokal dgn tawar menawar harga



Selama di Sudan, aku tak bisa mengandalkan bahasa arab karena sungguh sangat tidak faham awalnya mereka ini berbicara apa. Terkagum- kagum dengan suamiku yang benar-benar lancar berbahasa Arab saat beliau tawar menawar harga taksi, amjad (semacam mobil pribadi yang dijadikan angkutan umum), rikzah (bajaj) atau saat berbicara dengan orang Sudan. Iyalah, beliau sudah 6 tahun tinggal disini. Karena kemampuan beliau dalam berkomunikasi, otomatis keseharianku tak bisa lepas dari penjagaan suami. Kemana-mana harus sama suami, karena aku tak pandai berkomunikasi.
Masjid di IUA (International University Of Africa)
Hari kedua di Sudan, suami mengajakku untuk ikut acara halaqoh qur’an yang diselenggarakan oleh ibu-ibu dan mahasiswi Indonesia di PIP PKS Sudan. Aku benar- benar langsung tertarik dan ingin segera bertemu dengan orang yang sama-sama dari Indonesia. Apalagi setelah kemarin, ibu- ibu ini menyediakanku makanan demi menyambut kedatanganku ke Sudan.Tanpa permintaan dari suamiku tentunya. Karena beliau juga terkejut saat dua temannya datang ke apartemen yang kami tempati sementara membawa satu kantong plastik besar. Subhanallah, bahkan aku belum kenal dan bertatap muka dengan orang-orang ini, tapi karena saudara seiman aku merasa sudah sangat kenal betul dengan mereka.

“Gak apa-apa ukhti, kita semua satu keluarga disini”, kata ummu Muhammad, ibu beranak dua yang sudah 9 tahun tinggal di Sudan menjawab ketidakenakanku karena sudah merepotkan ikhwah disini. 

Kagum. Ini yang namanya kekuatan ukhuwah. Malu benar aku saat menolak beberapa titipan mereka karena barang- barangku yang sudah lumayan banyak dan berat untuk dibawa kesini. Aaaahh,, mesti digetok pula kepalaku karena terlalu egois dengan diri sendiri. Sedang mereka? Belum kenal dan belum bertatap muka saja, kedatanganku sudah ditunggu- tunggu oleh mereka.

“ begitu senangnya kami karena ada saudari baru yang akan hadir, semoga Allah membantu ukhti untuk merasa nyaman dan betah ya di Sudan. Kalo ada apa-apa, ceritakan kepada kami saja”, begitu kata ummu kholid saat mengajak ngobrol. 
Aaahh,, meleleh hati ini ini dibuatnya. Ukhuwah islam yang benar-benar terasa antar sesama anak bangsa di negeri orang. Bahkan beberapa alat rumah tangga sudah mereka siapkan untuk keperluan kami berdua disini. Seperti kompor, gas, beberapa alat masak, gelas, sendok, bejana besar untuk mandi, bahkan satu ranjang untuk tidur pun sudah mereka siapkan. Itu sebelum kedatanganku ke Sudan.

“Afwan ukh, walau bekas, semoga tetap bisa bermanfaat bagi ukhti dan suami”, Ummu Ikrom kali ini yang membuatku terpana oleh kebaikan-kebaikan mereka.

Allah, Allah, Allah, aku cinta mereka karenaMu. Karena ukhuwah yang Engkau perlihatkan padaku saat keterbutuhanku di negeri ini. Hmm.. belum genap seminggu tinggal di Sudan, Allah sudah memberikan banyak hikmah kepadaku. Rasa syukur dan rasa cinta kepadaNya menjadi bertambah kuat setelah sampai di Khartoum. Bantuan- bantuan dari saudara- saudara setanah air, meyakinkan aku bahwa you were not alone. Ada Allah yang selalu membersamaimu. Ada cinta dan kasih yang Allah titipkan lewat mereka para ibu- ibu dan mahasiswa yang telah lama menetap di Sudan. Mereka layaknya keluarga yang sudah lama bercengkrama, tak peduli dari kota mana di Indonesia, ketika sampai di Sudan, maka mereka adalah saudara.
Suatu hari, suami mengajakku jalan- jalan sore ke Amarot. Kali ini ke daerah dekat bandara. tidak jauh dari Riyadh, daerah yang sementara aku tempati sebelum mendapatkan rumah tinggal di sekitar Arkaweet, dekat dengan Jami’a Afriqiah (International University Of Africa), universitas ternama di Sudan dan banyak melahirkan orang- orang hebat dari sana. Suami mengajakku naik bis. Hamper sama dengan biskota di Indonesia, ada supir dan ada kondektur yang menagih ongkos kepada para penumpang. Hanya yang berbeda adalah suasana yang tercipta ketika berada di dalam bis. Kondektur, tidak seperti di Jakarta yang akan menghampiri satu persatu penumpang, menagih ongkos pembayaran, kadang mencolek bahu si penumpang tak perduli dia laki-laki atau perempuan berhijab, di Sudan, sang kondektur tidak mesti menghampiri satu per satu. Karena formasi tempat duduk penumpang yang hampir sama dengan formasi mobil elf biasa, dengan penambahan beberapa kursi di dalamnya pada space kosong, maka kondektur hanya memberikan kode dengan ketikan jari tanda bahwa dia akan menagih ongkos. Semua penumpang otomatis akan menyiapkan uang pembayaran. Bagi penumpang yang di belakang, tidak harus repot- repot mendatangi sang kondektur. Cukup dengan meng-estafetkan uangnya kepada penumpang yang di depannya hingga sampai ke sang kondektur. Kondektur pun saat tidak tahu milik siapa uang yang diserahkan penumpang lain, hanya memberikan kode uang milik siapa ini dan ada yang mengaku uang tersebut adalah miliknya, kondektur tinggal memberikan kembalian kepada penumpang terdekatnya dan dioper hingga sampai ke si pemilik. Ongkos naik biskotanya Sudan sekitar 80 piaster / quruuz (kurang dari 1 pound Sudan).
Sederhana sebenarnya pelajaran yang aku ambil dari kejadian tersebut. Bahwa dalam biskota pun, mereka menerapkan proses ta’awun, saling tolong menolong sesame penumpang dan kondektur yang tidak mereka kenal mungkin satu sama lain. Bayangkan bila ada saja penumpang yang tak sudi memberikan uangnya lewat penumpang lain hingga diberikan kepada kondektur, ia pun akan repot menghampiri kondektur yang jauh dari jangkauannya. Para penumpang pun juga saling membantu memberikan tempat duduk tambahan kepada penumpang yang baru naik. Memang di biskota sini disediakan tempat duduk tambahan berupa kursi lipat yang menyatu dengan jok- jok mobil di tengah. Apabila kursi penumpang utama sudah terpenuhi semua, penumpang yang baru naik akan duduk di kursi tambahan. Yang bikin kagumnya adalah, penumpang lama akan membukakan kursi lipat tersebut bagi penumoang yang baru naik dan mempersilakan duduk. Atau, ketika ada penumpang di belakang yang mau turun, maka beberapa penumpang duduk di kursi tambahan akan berdiri, melipat sementara tempat duduknya dan mempersilakan si penumpang untuk turun dan tanpa keberatan, ia akan menempati kursi kosong yang paling belakang, melipat kursi tambahan yang baru saja ia duduki untuk nantinya digunakan oleh penumpang baru. Disini, kalau di biskotannya yang belakang masih kosong, maka mereka tak keberatan untuk mengisi kursi yang paling belakang dan mempersilakan penumpang baru untuk mengisi kursi paling depan. Hmm..beda kalo di Jakarta atau Pondok Gede, penumpang biasanya menginginkan duduk di posisi dekat dengan pintu, karena tidak mau repot untuk masuk ke dalam. Bahkan ada saja yang tidak mempersilakan perempuan tua untuk duduk di dekat pintu karena sudah terisi olehnya yang masih muda, padahal sang nenek tidak sanggup untuk menyusur jauh masuk ke dalam angkot karena usianya yang renta. Atau di biskota dan busway sekalipun misalnya, ada laki-laki yang sudah duduk nyaman tak mempersilakan wanita yang menggendong bayi untuk duduk. Sedang ia asik membaca Koran di tempat duduknya. Tapi di Sudan berbeda. Mereka bahkan sangat mempersilakan wanita untuk duduk di tempat mereka, dan hanya membiarkan laki- laki untuk berdiri di dekat pintu. Wanita menjadi prioritas utama untuk duduk. Apalagi mereka yang sudah tua renta dan hamil. Supir pun juga tidak mau menaiki penumpang bila tempat duduk semuanya sudah terisi penuh. Sederhana memang. Tapi membuatku kagum dengan budaya mereka yang menanamkan nilai- nilai ukhuwah sesama penumpang yang tidak kenal satu sama lain. Miris dengan banyaknya kejadian disosial di Ibukota bila melihat budaya ta’awun di negeri orang.
Budaya islam di sini pun begitu terasa. Apalagi tentang tebar salam sesama kita. Teringat jawaban nabi saat ditanya oleh seseorang mengenai Islam yang bagaimanakah yang paling baik, kemudian Nabi SAW menjawab,

“Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal” (HR. Bukhari No. 11, 27 dan Muslim No. 39).

Begitu juga di Sudan, budaya memberi salam kepada setiap orang yang bertemu atau berpapasan sangat terlihat disini. Bukan hanya kepada orang yang mereka kenal, bahkan kepada orang asing semacam kami pun, salam tetap tersebar di mana-mana. Pernah aku dan suami sedang berjalan-jalan sore sambil mencari rumah yang mau ditempati, ada orang sudan melewati kami, kemudian mengucapkan salam kepada suamiku. “Assalamu’alaikum Warohmatulloh, Keif, Tamam?” sapanya. Suamiku: Alhamdulillah khoir, anta?”, Alhamdulillah kuwaiys, syukron”, jawabnya kemudian sambil berlalu. Aku bertanya, “Siapa zi?” Suamiku: orang gak kenal kok. Dia ngucapin salam aja karena papasan tadi”. Subhanallah, bahkan di tempat umum seperti ini pun bermuamalahnya mereka menggunakan budaya yang islami. Mereka gunakan dalam keseharian mereka,saat berbelanja, saat bertemu dengan pemilik kontrakan rumah, saat bertanya tentang jurusan mobil yang hendak dinaiki pun, salam itu tetap tersebar. Bahkan sang kondektur pun tetap ramah menjawab salam yang disampaikan. Subhanallah, bumi Allah begitu luas, begitu indah, dan alhamdulilah, Islam pun masih tetap membudaya di belahan benua yang jauh dari Indonesia. Semoga nanti, setelah kepulanganku dari sini, budaya-budaya itu harus tetap aku tanamkan, even masih sendiri, namun yang sedikit tapi berulang, semoga insya Allah akan menyebar kebaikannya kepada sesama. minimal umat Islam yang ada di sekitar rumah. Amiiin.

Sabtu, 31 Maret 2012

No winding and no blinding

All the roads that we have to walk along are winding, and all the lights that leads us there are blinding..

Hm.. Abis baca status orang yang terpampang jelas di fesbuk beberapa hari lalu.. Entah menyiratkan kegalauan kah atw memang sedang tidak memiliki semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Bertahan dalam sisa-sisa semangat karena habis ditinggalkan seseorang.. Karena sebelumnya memang Ia bercerita, bahwa ia break up. Ckckck

Hm.. Saya cuma bisa tersenyum.. Dan make a reflection.. Apakah saya pernah juga dalam posisi orang itu, dan bergalau-galau dengan mengatakan bahwa jalan yang kita lalui itu sulit, dan buta.. Tidak akan pernah ada cahaya..

tapi setelah itu saya pun hujamkan keyakinan bahwa saya tidak pernah punya keadaan karena sesuatu telah meninggalkan.
Apapun yang dicintai, apapun yang dikagumi, tak pernah saya posisikan berlebihan. Karena tak ingin akhirnya adalah kekecewaan and of course! Kegalauan yang menurut saya tak pernah punya arti baik buat diri pribadi.

Kalo saya mah yakin, bahwa tiap takdir yang ditorehkan Dia di Lauh Mahfudz, adalah yang terbaik untuk saya. Even those asked u to be more and more patient.

Pun juga karena saya selalu meyakini diri, bahwa hanya cinta Dia yang mendominasi. Selalu Dia Yang membersamai, sehingga saya pun tak pernah merasa sendiri. Agar tak ada kekecewaan, put ur trust on Him. Karena abadinya, sejatinya, hanya Dialah yang bisa ditaruh kepercayaan besar. Yang pastinya, tak kan pernah memberikan kekecewaan.
Harusnya juga sih, syapapun kita, when we decide to choose something, we have to spare a room to put the impossible possibility. Yap, agar tak banyak kecewa yang hadir, pun kita, juga harus memberikan ruang ketidakmungkinan dari setiap harapan yang hadir. Cinta, cita, mimpi. Anything.. :)
Biar tidak ada winding, tidak juga blinding lights. :)

Beside,
Jangan terlalu mencintai. Sewajarnya saja. Hingga ketika menemukan setitik noda di sana, kau tak lantas kecewa bahkan membencinya. :)

Minggu, 12 Februari 2012

Melakoni Sang Waktu

Burung camar, menyapa teduh bola mata…
senyumnya…
indah…
dan sejenak hanya ada debar…
yang membuat hatiku melemah.
bukankah hati ini selalu saja seperti itu..
mungkinkah ada sebuah cahaya di balik gelap itu…
melibas luka yang telah lama menganga…
sebab cinta..
sebab aku jatuh cinta…
pada seorang laki-laki yang menyapaku dengan tatapan setenang langit senja.
kemudian aku terpenjara sendiri dalam ruang-ruang pikiranku…
memaknaimu bukan hal yang mudah…
sebab tak ada satu kitabpun yang mampu menceritakan tentang hatimu…
debar itu…
selalu saja berdebar tiap kali kau singgah dalam pikiranku
ingin kubunuh debar itu, sebab aku lelah…
namun itu percuma saja…
aku jatuh cinta padamu.
laki-laki bermata langit senja

Sebab Langit Pagi Itu Seperti Langit Senja

Lihatlah!
Langit pagi seperti langit senja,
menuturkan potongan-potongan ceritanya pada sang waktu
Indah, namun melankolis…
Seperti hadirnya dalam rindu-rindu yang tak tampak…
Apakah ini adalah takdir?
Yang mempertemukan kita dalam rima yang sama..
lalu kemudian aku jatuh cinta,
pada sosoknya yang sederhana…
menikmatinya dalam diamnya yang membelengguku…
sebab tak satupun mampu kucitrakan tentang dia…
lalu… apakah ini adalah takdir…?
sebab aku menyimpannya lama dalam kitab-kitabku…
menuliskannya dalam kata,
sebab tak terhitung berapa tangis untuknya…
aku mencintaimu…
hiduplah denganku!
ketika waktu menuakan kita, aku tetap sama
mencintaimu, seperti hari ini aku mencintaimu,
tak kurang atau lebih… dan tak peduli kau tak tampak tampan seperti hari ini.
aku hanya ingin menatap senja bersamamu,
menghirup aroma hujan di beranda sambil menceritakan tentang sebuah kisah
tentang kita..
lihatlah!
langit pagi seperti langit senja,
menuturkan tentang pias matamu…

Ketika Kuncup Kata Memuai Lelah


Aku hanya belum bisa melipat jarak,
yang membentengi keakuanku…
hanya saja di tiap kali aku mulai memaknai hadirmu…
aku terus saja berperang dalam pikiranku,
terus berperang, sebab diam itu tak bermakna apa-apa.
membelenggu ragu, senyatanya itu menyiksa,
memasungku semakin dalam dengan jarak antara aku dan kau…
kukira cinta dengan malu itu berkawan,
namun aku salah, cinta tak berkawan dengan malu…
sebab hadirmu mengalahkan malu itu…
sebab diammu mematahkan malu itu…
namun kini, aku lelah..
mencintaimu dalam diam yang memasungku menjadi tak bernyawa…
semoga saja lelah ini hanya sementara..
sementara aku menunggu potongan cerita milikmu untuku
kuharap kau mengerti, ini sebuah kata sederhana…
yang diam-diam kutuju untukmu..

Sabtu, 17 Desember 2011

Who's the Boss??

Wikipedia: "I know everything"!
Google: "But I have everything"!
Facebook: "So what?? I know everybody"!
Internet : "Hey,, without me, you all are norhing.."!
Electricity : "Silent! Who's the Boss now?!"
Benjamin Franklin : "Ehem..ehem.. Who discovered Electricity??"
Allah SWT : " I created all of you..."

!\^o^/!! Nah looohh... *Speechless...