Selasa, 01 Juli 2014
Seri Ramadhan 1435 H --02-- Ramadhan dan para pahlawan--
Sejarah umat manusia selalu diwarnai dengan dinamika kepahlawanan. Tiada suatu negara pun yang tidak memiliki pahlawan. Allah yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna menghendaki agar mereka menjadi khalifah di bumi ini. Untuk itu, dilahirkan-Nyalah pahlawan-pahlawan pada setiap zaman bagi setiap kaum.
Ramadan banyak sekali mempengaruhi perubahan seorang mukmin, mereka yang benar benar bersahabat dengan ramadan dan menjadikan ramadan sebagai bulan perubahan.
Sang pahlawan pun tidak banyak pertimbangan dalam menyambut bulan suci ini karena fadhilah atau keutamaan di dalamnya sangat lah luar biasa. Mereka tahu cara dan bagaimana menghadapi bulan ini, mereka juga tahu apa yang dikatakan Al Qur’an dan hadits tentang bulan ini. Jangan pernah satu detikpun lewat dan terbuang begitu saja.
Hidangan lezat ruhiyah ramadan untuk diri dan keluarga tidak pernah sekalipun di sia siakan oleh para pahlawan untuk selalu berbuat.
Para pahlawan ramadan mempunyai sifat yang unik, karena selain mereka di berikan perubahan oleh ramadan, merekapun mampu memberikan perubahan untuk keluarga, orang disekelilingnya dan masyarakat. Dari kebaikan sekecil butiran pasirpun mereka raih.
Sikap para pahlawan terdahulupun sudah tertulis dalam tinta emas oleh kalangan sejarawan, padahal mereka tidak berharap dan menghendaki bahwa mereka ingin di catat namanya, akan tetapi begitulah sikap sejarah terhadap pahlawan. Ruh, harta, tahta dan jasad mereka pun diberikan untuk Allah dalam bulan yang suci ini. Sehingga peristiwa-peristiwa besar seperti perang dalam bulan ramadan menjadi saksi betapa para pahlawan siap bertarung dalam kegiatan kegiatan kebaikan besar. Yaitu mempertahankan aqidah dan negara mereka.
Sebut saja perang badar yang terjadi di tahun kedua Hijriyah. Sebanyak 313 orang berhadapan dengan 1000 orang Quraisy makah. Kaum muslimin dengan jumlah yang sedikit berhasil mengalahkan lawannya. Begitu juga perang tabuk, fathu makkah, andalusia yang ditaklukan oleh 12.000 pasukan Thariq bin Ziyad dengan meluluh lantakan 25.000 pasukan yang dipimpin oleh Roderick penguasa Visigoth Spanyol, yang berakhir dengan tewasnya Roderick.
Selain itu pasukan utsmani juga berhasil menggagalkan pengepungan kota selestriya yang terletak di wilayah Qorum yang dilakukan oleh 60 ribu pasukan Rusia, pengepungan yang terjadi selama 35 hari itupun tidak membawa dampak apapun walau hanya di hadapi oleh 15 ribu tentara Utsmaniyah yang kebanyakan berasal dari Mesir. Begitu juga hancurnya kekuatan Israel oleh mesir di Suez terjadi para Ramadan yang bertepatan dengan 6 Oktober 1973 dengan hancurnya benteng Berlif dan kembalinya dataran Sinai ke pangkuan Mesir.
Peristiwa peristiwa kebangkitan besar itu tak luput dari kejadian kejadian yang dilakukan dari peristiwa peristiwa kebaikan kecil oleh para pahlawan di sekitar mereka. Atau bagi para penulis yang menjadi pahlawan seperti Imam Ghazali dalam menyelesaikan Kitab Ihya Ulumuddin di bulan Ramadan. Atau mereka yang membagikan iftor di jalan jalan dan menjemput hak hak faqir miskin untuk sama berbagi kepedulian terhadap sesama. Mereka semua pahlawan yang memulai kebaikan dari yang terkecil.
Mereka hebat ketika menjadi prajurit dan hebat pula ketika menjadi Pemimpin, Dalam jiwa Pemimpin dan yang dipimpin tertanam tekad yang bulat untuk berjuang. Mereka optimis akan kekuatannya yang tak terkalahkan, dan yakin bahwa pasukannya tak akan menemui kesulitan. Optimis, bahwa setiap langkah akan diikuti oleh kemenangan. Mereka terus maju dan maju hingga Mencapai kesuksesan.
Pengorbanan seorang pahlawan begitu besar, Mungkin kita masih ingat kisah Umar bin Abdul Aziz r.a kehidupannya patut diteladani oleh para pahlawan jaman ini. Begitu menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz langsung memanggil pembantu dan meminta orang-orang yang ada di rumah supaya mengeluarkan peti-peti simpanan keluarga dan membongkar isinya. Mereka mengeluarkan isinya yang antara lain terdapat banyak catatan harta. Ketika pembantunya itu disuruh membacakan, ternyata catatan-catatan itu adalah milik bani Abdul Aziz seluruhnya.
Satu persatu catatan itu dibacakan, dan tiap kali mendengar satu catatan, beliau mengatakan, “Ya itu kepunyaanku dari ayahku,” lalu di robeknya dan harta yang tercatat di situ diserahkan ke baitul mal. Yang lain dibacakan, beliau katakan, “ ya, ini kepunyaanku dari ibuku,” beliau robek lalu hartanya diserahkan ke baitul mal seraya berdoa, “ semoga ibuku mendapat rahmat Allah.” Dibacakan pula catatan yang lainnya, kata beliau, “Ya, ini kepunyaanku hasil dagang dan ushaku,” lalu dirobeknya catatan itu dah harta yang tercatat diserahkan ke baitul mal, seraya mengatkan, “kiranya Tuhan merahmati aku…”
Begitulah sikap para pahlawan terhadap hartanya dalam bersedekah, maka jangan sia siakan Ramadan kali ini untuk berjiwa Pahlawan. (Syafrudin Umar, Lc)
Seri Ramadhan 1435 H --01-- mengalami flek, puasa batal kah?
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Salah satu masalah yang banyak membingungkan para putri adam, keluarnya flek ketika puasa. Apakah terhitung haid, sehingga puasanya batal, ataukah bukan haid sehingga tetap wajib melanjutkan puasanya.
Pendekatan yang digunakan untuk menjawab permasalahan ini adalah batas waktu minimal darah yang keluar bisa disebut haid. Ada 3 pendapat ulama dalam hal ini,
Hanafiyah berpendapat, batas minimal bisa disebut haid adalah 3 hari. Ketika darah itu keluar kurang dari 3 kali 24 jam, menurut hanafiyah, bukan darah haid. Sehingga tetap wajib menjalankan aktivitas sebagaimana layaknya sedang suci.
Malikiyah sebaliknya, tidak ada batas waktu minimal untuk keluarnya darah haid. Wanita bisa mengalami haid, meskipun darah yang keluar hanya sekali. Sehingga flek, menurut Malikiyah, terhitung sebagai haid.
Sementara mayoritas ulama – Syafiiyah dan Hambali – menegaskan bahwa batas minimal haid adalah sehari semalam. Jika darah yang keluar kurang dari 24 jam, tidak terhitung haid. Sehingga flek sekali – dua kali, tidak terhitung sebagai haid.
Tarjih:
Pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa batas minimal haid adalah sehari semalam. Diantara alasan yang mendukung pendapat ini adalah
Pertama, satu istilah yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah, dipahami dengan tiga pendekatan:
Makna syariat
Makna ‘urf (anggapan yang berlaku di masyarakat)
Makna bahasa arab
Kaidah yang dijelaskan para ulama ushul, ketika ada satu istilah dalam Al-Quran dan Sunnah, penedekatan pertama adalah makna syariat, jika syariat tidak menjelaskan, berpindah pada makna ‘urf, pemahaman yang berlaku di masyarakat ketika itu, kemudian makna bahasa arab. (Taisir Ilmi Ushul Fiqh, Dr. Abdullah Yusuf Al-Judai’, hlm. 260 – 262)
Istilah ‘haid’ terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah. Hanya saja, dalil tentang haid dalam Al-Quran dan Sunnah hanya menjelaskan hukum-hukum yang berlaku ketika seorang wanita mengalami haid. Namun tidak dijelaskan tentang definisi dan batasan haid. Sehingga pendekatan dengan makna syariat, tidak memungkinkan. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 32684)
Karena itu, mayoritas ulama mengembalikan batasan haid kepada makna ‘urf atau bahasa arab.
Secara bahasa, haid berasal dari kata hadha [arab: حاض ] yang artinya mengalir. Orang arab mengatakan, [حاضت الشجرة ] “pohon itu mengalami haid”, maksud mereka adalah pohon itu mengalirkan getahnya.
Sementara yang namanya mengalir, secara bahasa, tidak teranggap hanya dalam bentuk spots, flek, atau tetes. Semacam ini secara bahasa tidak disebut haid.
Kedua, terdapat riwayat yang disebutkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
إِذَا رَأَتِ الْمَرْأَةُ بَعْدَ مَا تَطْهُرُ مِنَ الْحَيْضِ مِثْلَ غُسَالَةِ اللَّحْمِ، أَوْ قَطْرَةِ الرُّعَافِ، أَوْ فَوْقَ ذَلِكَ أَوْ دُونَ ذَلِكَ، فَلْتَنْضَحْ بِالْمَاءِ، ثُمَّ لِتَتَوَضَّأْ وَلْتُصَلِّ وَلَا تَغْتَسِلْ، إِلَّا أَنْ تَرَى دَمًا غَلِيظًا
“Apabila seorang wanita setelah suci dari haid, dia melihat seperti air cucian daging, atau flek, atau lebih kurang seperti itu, hendaknya dia cuci dengan air, kemudian wudhu dan boleh shalat tanpa harus mandi. Kecuali jika dia melihat darah kental.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 994)
Keterangan:
Makna ‘air cucian daging’ (Ghusalah Lahm) adalah warna darah merah pucat, layaknya air yang digunakan untuk mencuci daging.
Flek atau darah yang keluar statusnya najis, dan membatalkan wudhu. Karena itu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerintahkan agar dicuci dan berwudhu jika hendak shalat.
Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang status puasa wanita yang mengalami flek-flek, apakah puasanya sah? Dan itu terjadi sepanjang bulan ramadhan. Jawab beliau,
نعم ، صومها صحيح ، وأما هذه النقط فليست بشيء لأنها من العروق
“Ya, puasanya sah. Flek semacam ini tidak dianggap (sebagai haid), karena asalnya dari pembuluh.” (Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/137)
Beliau juga mengatakan dalam kesempatan yang lain,
فما بعد الطهر من كدرة، أو صفرة، أو نقطة، أو رطوبة، فهذا كله ليس بحيض، فلا يمنع من الصلاة ، ولا يمنع من الصيام، ولا يمنع من جماع الرجل لزوجته، لأنه ليس بحيض
Cairan yang keluar setelah suci, baik bentuknya kudrah (cairan keruh), atau sufrah (cairan kuning), atau flek atau keputihan, semua ini bukan termasuk haid. Sehingga tidak menghalangi seseorang untuk shalat atau puasa, tidak pula hubungan badan dengan suaminya, karena ini bukan haid. (60 Sual fi Al-Haid).
Berdasarkan keterangan di atas, flek yang dialami oleh wanita yang sedang puasa, meskipun itu sering terjadi, tidaklah membatalkan puasanya.
Allahu a’lam
***
Muslimah.Or.Id
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber : http://muslimah.or.id/ramadhan/mengalami-flek-puasa-batal.html
Jumat, 06 Juni 2014
Aku menjadi mulia tak terhingga menjadi Ibu Rumah Tangga
Aku menulis ini bukan semata- mata untuk memotivasi para ibu yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga. Tapi tulisan ini semata- mata untukku sendiri. Yang merasa bosan dengan rutinitas menjadi ibu rumah tangga yang baru saja kujalani kurang dari 2 tahun.
Pagi ini aku mengeluh, pekerjaan yang sepertinya gak beres- beres urusannya. Bermalam dengan Buah hati yang sedang sakit, memeluknya mencoba menguatkannya saat batuk tak kunjung sembuh, membuatkannya susu Tengah malam. Paginya, rutinitas memasak makanan bayi dan sarapan, menyapu dan mengepel, mencuci baju, dan menggosok pakaian kemarin yang baru dijemur. Di tambah dengan rewelan si kecil minta ini dan itu. Saat itu aku sempat merasa menyesal, kebosanan ini karena aku hanya melakukan pekerjaan yang itu2 saja. Dan hanya berada di rumah. Aku menyesal kenapa dulu memilih untuk resign dan meninggalkan karierku.
Aku bahkan sempat berdoa meminta rezeki untuk mendapatk kembali sebuah pekerjaan bahkan untuk perempuan beranak satu sepertiku. Hari ini jumat, harus banyak berdoa biar bisa dikabulkan! Batinku.
Setelah Dhuha, kucoba cari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidang pengetahuanku. Scroll dari atas ke bawah, dan lowongan itu tak ada yang menarik, malah tidak sesuai dengan bidangku, Administrasi Negara. Mulai bosan, akhirnya bacaanku beralih ke media sosial. Mungkin ada secercah info tentang lowongan pekerjaan di medsos yang dishare oleh kawan2.
Dengan bayangan bahwa ketika bekerja aku merasa masih bisa mendidik anak2ku, juga membantu suami menambah penghasilan keluarga, dengan semangat aku coba cari info di facebook. Beragam status teman2 dn kerabat ada di situ. Hingga aku tertuju pada satu status yang nampar banged buat suasana hati yang gundah karena merasa tak produktif hanya dengan menjadi ibu rumah tangga.
~~Untukmu para ibu yang di rumah~
Untukmu para ibu yang di rumah
Mengapa engkau masih merasa galau dan gundah
Atas pilihan yang dianjurkan Syariah
Agar engkau tetap berada di rumah
Mengapa pula engkau harus iri dan cemburu
Atas selisih puluhan lembar ratusan ribu
Sedang kau memiliki begitu banyak waktu
Merawat mereka langsung dengan tanganmu
Serta menurunkan berjuta ilmu
Mengapa perasaanmu masih terasa berat
Atas perintah Allah untuk selalu taat
Pada suamimu yang meminta dengan sangat
Agar engkau dapat focus merawat
Padahal dengannya surga menjadi begitu dekat
Andai engkau tau bahwa peluang surgamu tak jauh
Cukup bekerja ikhlas dan tanpa banyak mengeluh
Mendidik generasi yang berjiwa tangguh
Memberi nutrisi pada jiwa dan tubuh
InsyaAllah kepuasan hatimu diisi Allah secara penuh
Memang betul kau berharap sebuah eksistensi
Merasa melakukan pekerjaan yang tak bergengsi
Seputar masak, sapu pel dan mencuci
Aaaahhh... Itu karena engkau tak menyadari
Ayunan sapumu berpahala seri
Dengan suamimu yang mencari rezeki
Yang berkemeja rapi dan berdasi
Aaaah... Itu karena engkau belum mengenal
Bahwa pilihanmu dibalas Allah dalam banyak hal
Pada sisi lain yang tak mampu engkau hafal
Kecuali kelak pekerjaan ini engkau tinggal
Aku mengerti kadang engkau resah
Dengan sekian lembar ijazah
Yang kau raih dengan susah payah
Aaaa... Andai kau mengerti
Ilmumu begitu sangat berarti
Dalam mendidik generasi
Yang berkualitas dan bervisi
Aku tau kadang kau rindu seperti mereka
Yang setiap hari pergi berkendara
Keluar rumah untuk bekerja
Dan mengukir sejuta karya
Aaaaa... Itu karena engkau tidak tau
Sebagian mereka merasa rindu
Mendapat kemewahan seperti dirimu
Yang selalu siap membuka pintu
Seperti engkau menyambut suamimu
Alhamdulillah wa syukurilah
Ketika suamimu hanya memintamu di rumah
Berarti ia siap Bekerja keras mencari nafkah
Menyokong semua tanpa berkeluh kesah
Berada di rumah tak berarti tanpa arti
Semoga Allah memberikanmu jalan pengganti
Dalam meraih impian yang kau cari
Dari sudut ternyaman di rumahmu sendiri
Maaf... Lukisan hati ini bermaksud membandingkan
Terhadap mereka yang berjasa mengambil peran
Keluar rumah dengan berjuta alasan perjuangan
Tulisan ini dibuat untuk menghibur hati
Para ibu yang merasa kehilangan eksistensi
Bahkan terkadang berkecil hati
Merasa diri tak begitu berarti
Untukmu para ibu yang di rumah
Mari ikhlaskan hatimu dan berpasrah
Agar peluang surga yang ada di rumah
Tak terhapus dengan keluh kesah
By: Kiki Barkiah
San Jose, California, 27 April 2014
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Jleb! To be honest, this poetry obviously stabbing me.. Allah arahkan aku untuk membaca tulisan yang mampang di wall ku.. Dan ternyata cara ini juga yang diperlihatkan Allah agar aku senantiasa bersyukur dengan peran juang yang aku jalani sekarang. Sebagai ibu dan sebagai istri..
Sekelibet aku langsung teringat dengan scene film "Habibie Ainun", saat Ainun merasa bosan berada di Jerman, menemani suaminya yang tengah studi dan bekerja.. Bisa jadi saat itu yang dipikirkan Ainun sama denganku saat ini, bosan untuk rutinitas padahal bisa membuat aku sangat mulia di mata Tuhan, di mata suami..
MasyaAllah... Semoga aku tidak lagi bertindak mengeluh, menyesal atas peranku saat ini. Dan tidak menace ooh atau bahkan menganggap rendah sosok Ibu rumah tangga. Padahal toh, Allah memberikanku nikmat suami yang sholih, rezeki dari hasil berbisnis, dan anak yang tak harus lama menunggu kedatangannya pasca menikah..
Semoga Allah Ridha dengan yang kujalani saat ini.. Semoga hatiku tetap lapang dalam mengerjakannya..
Sabtu, 10 Agustus 2013
Merayakan Cinta Bersama Mujahid Kecil
Alhamdulillahirrobil'aalamiin.. Allah,
terimakasih untuk nikmat ini... ucapku dalam hati, bersyukur.. Butiran kaca pun
tertahan di kelopak mata ini, bukan karena sedih, bukan.. tapi karena Allah
begitu sayang pada kami, padaku dan bayiku... untuk bisa bertemu, dalam dunia
nyata, melakukan sentuhan antara aku dan bayi, dan memberikanku gelar baru,
seorang ibu, karena mulai dititipkan amanah sesosok makhluk kecil nyata sebagai
anugerah terindah dariNya.
--23 Juni 2013/ 15 Sya'ban 1434 H Pkl
21.50 Waktu Sudan--
Dear My Little Mujahid, Umma sangad
bahagia, bersyukur, dan haru saat mendengar pekik tangisanmu beberapa menit
setelah kau keluar dari rahim Umma nak. Sempat rasa gundah melanda saat kau
keluar tak bersuara, sakit rasanya ketika melihat mereka para dayyah (bidan)
berusaha membuatmu bersuara dengan menepuk- nepuk keras pundakmu, memasukkan
sebuah selang entah untuk apa ke dalam tenggorokanmu.. Perih dan ngilu Umma
rasakan ketika mendengar suara tenggorokan seperti tersedak saat selang itu
dirogoh-rogoh ke dalam tenggorokanmu.. Umma tak tega mengingatnya.. tapi
beberapa detik setelah itu, tangismu pecah memenuhi ruangan, dan Umma sangad
bahagia. Allah masih memberikan takdir baiknya untuk kita bertemu nak, memberikan
amanah baru kepada Umma untuk merawatmu kelak setelah persalinan ini..
Alhamdulillah...Alhamdulillah...sungguh haru..
Dear My Little Mujahid, adalah kebahagiaan
terindah saat melihat dirimu bergerak-gerak dalam sebuah ranjang inkubator,
helaan nafasmu yang Umma lihat dari kembang kempisnya perutmu, hanya tubuh
mungilmu yang sita perhatian Umma, tak peduli perih saat dokter membantu proses
penjahitan beberapa saat setelah engkau lahir. Umma hanya ingin cepat
menyentuhmu, memelukmu mujahid kecilku. Karena seketika rasa sakit itu sirna
terganti bias cahaya syurga yang memancar darimu nak... dirimu keajaiban yang
Allah hadirkan di dalam hidup Umma....
Kau adalah cinta Umma dan Abuya nak,, atas
penantian panjang lebih dari sembilan bulan kami, berbuah kebahagiaan yang
hanya mampu terbahasakan dengan bahasa cinta, bahasa syukur atas nikmat Allah
kepada kami, amanah besar membesarkanmu menjadi hamba Allah yang tangguh,
tholabul'ilmi, yang hidup dengan cinta penuh kepada Allah dan RosulNya, yang
istiqomah kecintaannya pada Islam dan selalu bersemangat untuk memperjuangkan
tegaknya islam di bumi Allah.. amiiin..
Dear My little Mujahid, Umma dan Abuya
hadiahkan untukmu sebuah nama "AL IZZ Muhammad, yang kami ambil dari
seorang ulama dengan julukan “Sultonul Ulama” dari Mesir Al-Izz ibn Abdussalam,
nama yang bersinar dalam daftar ulama besar Islam. Kedalaman pengetahuannya
tentang syariat, obsesi yang besar tentang permasalahan umat dan solusinya,
keberanian dan kejujurannya dalam menghadapi penyimpangan korupsi oleh para
penguasa dunia muslim saat itu. Yang tidak terintimidasi oleh kekuatan
para penguasa, atau terpikat atau ditakut-takuti oleh banyak godaan menarik
yang mereka miliki. InsyaAllah sayangku, insyaAllah semoga pribadi itu juga
mengkarakter padamu.. amiiin..
***
Aku teringat kisah sembilan bulan lebih
yang lalu awal kebahagiaan saat mengetahui diriku hamil, saat periksa melalui
USG bersama suami, tertanam sudah 8 minggu sebuah janin kecil buah dari Maha
Rahman dan Maha Rahimnya Allah SWT.
Ketika tiga bulan pertama kualami masa
kehamilan dengan kepayahan, bolak- balik mengantor untuk tiga bulan terakhir
sebelum akhirnya kuputuskan untuk resign,kurasakan mual tiada henti, bahkan
sempat mengalami kecelakaan kecil bersama suami ketika mengendarai sepeda motor,
tapi Subhanallah, janin ini begitu kuat, guncangan itu tak mempengaruhinya,
ketika dokter mengatakan tidak ada masalah dengan kandunganku pasca kecelakaan
tersebut.
Memasuki
bulan keempat, sesuai petunjuk Rosul melalui sabdanya, bahwa kandungan akan ditiupkan
ruh oleh malaikat.. dan benarlah, suara detak jantung bayiku begitu membuat
takjub. Baru pertama kalinya aku dengar detak jantung begitu debar dan keras.
Andaikan saat itu suami menemani dan juga mendengarkan detak jantungnya lewat
alat ultrasonografi, pastinya beliau akan bahagia. Tapi jarak Sudan – Indonesia
pun memang terasa sangat jauh. Dan hanya bisa kuuntaikan kata pada suamiku
tentang berbagi kebahagiaan bahwa janin ini makin sehat dan kuat.
Mengandung itu, menyenangkan. Setiap ceritanya, saat
ini membuatku banyak tersenyum, dari cerita yang lucunya, sedih-sedihnya,
harunya, bahagianya, semua jadi satu seperti pelangi menghias langit pasca
hujan turun. Terlebih saat memasuki bulan bulan terakhir masa mengandung, aku
semakin merasa antusias menyambut kehadiran sang mujahid kecil, walaupun tubuh
kian berat dibawa kemana-mana, perut, pinggang, punggung yang rasanya bisa
lepas sewaktu-waktu, gerak yang terbatas, rasa sakit nyeri yang lebih sering
menyapa, semuanya menjadi sebuah kesatuan rasa yang hanya bisa diringankan
dengan memperbanyak istighfar dan dzikir baik di hati, lisan, dan perbuatan.
Ummahat Indonesia yang berada di Sudan senantiasa mengingatkan untuk terus
memperbaiki amalan kala janin makin membesar. Surat-surat panjangNya kusetel setiap
hari dan berulang-ulang. Inginku bahwa janin ini juga mulai familiar dengan
ayat-ayatNya dan berharap kelak ia cepat menghafal surat-surat di dalam
al-qur’an. Terlebih kata mereka, para sahabatku di Sudan ini, bahwa
amalan-amalan itu lah yang senantiasa memudahkan saat berkegiatan di usia-usia
kehamilanku dan juga memudahkan saat persalinan nanti.
Kisah-kisah haru biru yang kulewati bersama
suamiku pun juga banyak saat kehamilannya semakin membesar. Bagaimana kami kais
rezeki sedikit demi sedikit untuk persalinan nanti, hingga Allah hibahkan
rezeki dengan scenario begitu seru untuk suamiku. Ya, rezeki untuk mendapatkan
tugas sebagai Tenaga Musiman Haji tahun 2013 ini. Ah, kalau mengingatnya, kami
mungkin akan titikkan air mata. Sungguh! Rezeki Allah SWT itu benar-benar tak
terduga dan akan datang melalui pintu dari mana saja.
Sempat didera rasa khawatir, karena mendekati
usia kandungan 10 bulan (40 minggu), aku belum menunjukkan masa jelang
kelahiran. Tak ada hix atau mulas- mulas pertanda kelahiran. Sahabat-sahabat di
Sudan hamper setiap hari bertanya, kapan Al-Izz akan lahir. Bahkan beberapa
mahasiswa banat (akhwat) pun sudah membuat schedule jaga pasca persalinanku
nanti. Mereka begitu menanti. Ah. Aku pun juga sangad menanti kehadiranmu nak.
Tak sabar sebenarnya. Pernah di pekan ke 39, aku merasakan ada cairan agak
banyak keluar dari bawah. Kutanya ke salah satu ummahat yang berpengalaman.
Indikasi awal kami itu adalah rembesan air ketuban. Segera aku dan suamiku
pergi ke rumah sakit. Namun ketika sampai ke rumah sakit, dokter jaga bilang
bahwa cairan itu tak akan bermasalah dan aku disuruh kembali pulang. Oalaah,
padahal sudah sangat siap, lantas malah disuruh pulang lagi sama si dokter.
#tepokjidat
Melewati pekan ke 41, aku perbanyak tilawah,
menghafal qur’an, kudekatkan lagi diri ke Robb Pemegang Takdir, curhatku, bahwa
aku sangat merindukan hadirnya anakku di dalam dekapku.. tangisku makin pecah
hari Sabtu itu, meminta Allah mempercepat waktu kelahiran. Ah, kenapa aku tidak
sabar? Padahal bila kita yakin, Allah pun akan hadiahi anugerah
sebesar-besarnya untuk kami.
Tepat hari Ahad, pekan ke 41+ 4 hari, mulas-
mulas itu datang. Padahal, niat kami, bila sampai hari ahad ini, aku tak
merasakan pula mulas-mulas, maka kami akan ambil tindakan induksi. Dan yang
pastinya aku pun sudah tahu bahwa konsekuensi dari induksi adalah rasa sakit
yang lebih berat daripada rasa kontraksi normal. Namun Allah begitu baik,
takdirNya, aku rasakan kontraksi normal. Mulanya kurasakan 10 menit sekali,
kemudian menjadi 7 menit sekali, tapi terkadang menjadi 3 atau 4 menit sekali,
kemudian berubah menjadi 7 menit sekali. Tidak normal. Dokter mendiagnosis
kehamilanku yang sudah melewati masa estimasi persalinan. Bila hingga 6 jam
kontraksiku tak mengalami progress, maka mereka akan mengambil tindakan
operasi. Innalillah,, aku genggam tangan suamiku, aku hanya ingin persalinan
ini normal dan cepat. Bagaimana bisa? Padahal rasa kontraksi ini begitu
mengiris- ngiris seluruh tubuh. Sakitnya bukan main. Sedangkan dokter punya
planning yang tak sesuai dengan keinginan. Doaku makin kuperkuat. Allah, aku
hanya ingin persalinan ini normal. Wondering bila persalinan ini melalui
section (operasi), kegiatanku kan makin terbatas karena harus menunggu
pemulihan jahitan di perut. Ah, tidak! Kutepiskan bayangan-bayangan operasi,
kufokuskan untuk bisa melahirkan normal.
Enam
jam yang diberikan dokter mendekati batas, namun progressku pasif. Dokter sudah
menyuruh suamiku untuk siap-siap membeli obat-obatan pendamping operasi, infus,
suntikan, dan lain sebagainya. Suamiku menyuruh memperbanyak dzikir dan doa.
Aku tetap berdoa, perbanyak dzikir, dan mendoakan untuk umat, kudoakan untuk
qiyadah, untuk permasalahan-permasalahan yang sedang melanda umat. Kulihat
suamiku sedang berbicara dengan dokter yang memberiku vonis tadi. Entah apa.
Tapi kuyakin ia pun sedang membujuk dokter untuk bisa melakukan persalinan
normal. Alhasil, dokter memberikanku tambahan waktu hingga 2 jam ke depan.
Apabila hingga pukul 9 aku pun masih tak memiliki progress, maka tindakan
operasi tetap akan dilanjutkan.
Sebagai
bantuan untuk mempercepat proses keluarnya janin, dokter memberikanku suntikan
induksi. Dan itu sangad membuatku makin menderita. Kontraksi bukan hanya terasa
permenit sekali, tetapi terus menerus terasa ngilu. Hampir saja aku ingin
teriak mengeluh rasa sakit itu, tapi Alhamdulillah yang keluar adalah dzikir
dan doa kepada Allah. Rasa sakit itu mungkin agak membuat hilang sikap sopan
santunku. Memanggil dayyah yang tua dengan jentikan jari, dan sedikit berteriak
saat mereka tak menggubris panggilanku. Dan gilanya, aku bahkan meminta untuk
dicek terus menerus dengan kedua jari masuk ke dalam vaginaku. Aku tak tahu apa
istilahnya dalam kedokteran, namun cara itu agak membuat rasa kontraksiku
berkurang. Hingga aku meyakinkan dokter bahwa si bayi sudah berada di bawah.
Caraku pun itu berhasil! Aku diperbolehkan untuk naik ke kursi persalinan.
Sedikit membuatku lega, walau rasa kontraksi itu begitu mendera.
Hampir 1 jam aku mengejan berusaha mengeluarkan
bayiku. Tak tahu berapa dokter yang membantu proses kelahiranku. Satu, dua,
lima! Ditambah satu dayyah tua yang berusaha mencoba mengeluarkan kepala si
bayi. Tenagaku makin lemah, karena hampir 12 jam aku berada di rumah sakit ini,
tanpa makan, bahkan minum pun aku tak nafsu. Seramah mungkin dokter
memberikanku kekuatan lewat supportnya, dan.. “Allah…..!!” keluarlah bayiku
tepat pukul 21.50 waktu sudan. Begitu bahagianya melihat si kecil yang sedang
diurus oleh para dayyah di atas sebuah ranjang incubator. Aku merasa dekat
dengan si kecil. Aku begitu bahagia.
Kebaikan-kebaikan dan kasih sayang Allah pada
makhlukNya memang tak terkira. Malam itu pun aku diberikan sebuah hikmah,
tentang sesakit apapun derita yang dirasa saat mengandung, saat berusaha untuk
mengeluarkan si kecil, tetap dzikir dan do’a adalah penguat jiwa. Apalagi Allah
janjikan mustajab doa di masa- masa jihad itu. Dan memang aku pun setuju
tentang pertolongan Allah saat kita perbanyak dzikir, perbanyak mengingatNya….
Karena memang belum tentu setelah persalinan itu Allah masih memberikan
kesempatan padaku takdir bernyawa. Namun karena doa, sebagai pengubah atau
penggeser dari takdir itu, maka Allah masih memberikanku kesempatan kehidupan,
bertemu dan memberikan cinta kepada si kecil. Saat persalinanku itupun,
bersamaku ada seorang ibu jelang persalinan berkebangsaan Ethiopia. Aku tahu
kontraksi itu begitu sakit, sehingga dzikirku makin kuperbanyak ketika dokter
memberikanku suntikan induksi. Sang ibu, memang tak diberikan suntikan induksi,
tapi mungkin memang rasa kontraksi yang dirasakannya begitu hebat, hingga ia
mengaduh dengan bahasanya, membuat suara berisik, karena mungkin tak tahan
dengan rasa sakitnya. Aku juga heran dengan para dayyah yang tidak
memberikannya support, malah mendiaminya, atau bahkan saat ia berteriak
kesakitan, sang dayyah malah mengomelinya. Hingga ia naik ke tempat persalinan,
tak lama setelah bayiku lahir. Aku pun masih berada di kursi persalinan
sebelahnya menunggu selesai jahitan-jahitan pasca persalinan. Dibantu dengan
hanya satu dayyah dan dua dokter ia pun berusaha untuk mengeluarkan sang bayi.
Karena ia mengaduh begitu keras dan lagi-lagi membuat suara berisik, sang
dayyah pun memarahinya. Terkadang memukul paha dan bokong sang ibu. Ah,
kasarnya dayyah itu. Mengejan pertama dan kedua, bayinya masih belum keluar.
Hingga ejan yang ketiga, bayinya pun keluar. Namun, ah! Tali pusat bayi melilit
agak kencang pada leher sang bayi. Aku yang melihat di samping pun miris.
Ketika secepat mungkin dayyah menolong dengan memutar dan melonggarkan tali
pusat yang melilit dan memotongnya. Pertolongan selanjutnya yang hampir sama
ketika bayiku keluar pun mereka lakukan. Menepuk-nepuk keras punggung sang bayi
untuk merangsang bayi agar menangis. Tak berhasil dengan cara itu, sang bayi
dimasukkan selang untuk mengeluarkan cairan- cairan ketuban yang didiagnosis
banyak masuk ke dalam tubuhnya. Tak juga berhasil. Hingga, ah! Miris
sebenarnya, sang dayyah mencoba menggoyang-goyangkan tubuh sang bayi dengan
membalikkan tubuh sang bayi, kepala di bawah, kaki di atas, diguncang-guncang.
Namun tak membuahkan hasil. Ada apa dengan bayi ini? Doaku, agar bayi itu
diberikan nyawa dan diberikan kesempatan hidup untuk bercengkrama dengan
ibunya.
Ketika sedang kususui si kecil, dokter datang dan
menghampiri sang ibu yang bersalin bersamaku. Ia membawa berita duka. Bayi yang
tadi tidak bisa diselamatkan. Sejak keluar, bayi memang sudah tak bernyawa.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Derai air mata ibu itu pun tumpah. Aku pun
sangat sedih. Sembilan bulan mengandung, Allah berikan takdir kepada sang ibu
agar kembali bersabar menghadapi ujian. Tak sangka, bahwa Allah pun
memberikanku pelajaran tentang kematian yang begitu dekat. Sebuah perbedaan
yang sangat kontras antara aku dan si ibu. Antara aku yang bahagia, dan si ibu
yang begitu sedih. Padahal saat Al-Izz keluar dari rahimku, sang ibu yang masih
menahan rasa sakit kontraksi memberikan senyuman padaku. Aku yakin maksudnya
adalah “Selamat, untuk kelahiran anakmu”.. dan begitu kontras dengan kata- kata
yang kuucapkan padanya.. “bersabarlah, Allah sedang sayang padamu dan
memberikan bantuan padamu masuk ke syurga lewat anakmu yang tiada”.
Mengingat kejadian itu, Allah coba memperlihatkan
antara dua hal kepadaku sebagai manusia, yang mungkin ketika itu, ada terselip
pikiran negatif bila anakku tak hidup saat sudah dilahirkan. Allah menyuruhku
bersyukur, tentang nikmat yang diberikan dan memperlihatkan bagaimana kekuatan
doa itu luar biasa. Ketakutan akan nasib malang pada si kecil, berbuah manis
karena dampak dari doa. Di samping bersyukur,Allah juga mengingatkanku untuk
selalu extra bersabar kala mendapat ujian sama seperti ibu itu. Yang harus
kehilangan anak yang dinanti kehadirannya, menangis, namun harus tetap bersabar
dengan cobaan yang mendera.
Dan sekarang, 48 hari kelahirannya, aku amat
sangat menikmati peran baru menjadi seorang ibu, umma, merawat dengan sabar
mujahid kecilku, salah satu wasilah besar untuk mencapai syurga. Dan karenanya,
butuh ilmu, power, semangat dan kasih sayang besar yang harus ditambah demi dapat
mentarbiyah mujahid kecil ini agar dapat menjadi hamba Allah SWT yang bertaqwa.
Suamiku, aku sangat mencintaimu, ketegaranmu,
kesabaranmu, dan penasaranmu untuk bisa membantuku dalam proses lahir, walau
hanya dalam bentuk doa, karena aturan yang tak membolehkanmu masuk ke ruang
persalinan, namun aku seperti mendapatkan kekuatan dari doa-doa dan motivasimu
lewat pesan singkat.
Kepada Ummahat Sudan, terkhusus kak Siti Maheran dan untuk semua saudara-saudariku di jalan Alloh yang telah
memberi doa, dan berbagai kebaikan kepada saya, semoga Alloh merahmati kalian
dan keluarga insya Allah.
Senin, 08 April 2013
PREPARING FOR THE DAY AFTER YOU DIE
I don’t know how to distinguish about love for ur man and love for ur The Merciful and The True Lover in universe since u have married by a man. Like me, after our wedding day on 2nd September 2012 ago, when he declared about his vow to always love and protect me, to keep our faithful in our agreement of wedding (in Islam we said it Ijab Qobul), I though that I have no reason to refuse his love, and after that, I started to love him day per day. But… sometimes my love into him were dominate and sometimes I forgot to giving love to another like giving the love to Allah frequently. Innalillah. I noticed that it wasn’t because his mistake, but mine of course. I should have enclosed my love to Allah before spend my love to my husband or to the other. Yes, it is, I have to enclose it, by now.
Sabiq hakim, my husband, he always try to
guiding and fostering me in our domestic life. Warning me to always taqorrub
ilallah (get close to Lord), to do the several things of Hardship like
Solah, keep remembering me reciting Qur’an and memorized it, to make du’a, to give
sadaqoh, and waking up early. He support me to set a goal for my vision too
(having an UK scholarship for example). In addition, he gave me a seed in my
womb one month after our wedding. Hihihi, he was so fruitful and healthy,
right?… ^_^, with God’s permition of course. And during my pregnancy, he tried
to protect and keep me safe although his joke was feeling me hurt sometimes..
Huumm.. maybe it because my sensitivity were increase since the fetus coming in
my womb. It maybe the hormone estegosteron impact. I’m not really sure.
Seven months during my pregnancy, my body
getting big and so fat. Oh, I worried about my labor. Frustrated and bad
headache was attacked me sometimes. I
worried that I have a diabetes, pre eclampshy or something more bad than I
thought. Na’udzubillah. And…the day by now, I haven’t preparing yet for my
mentality when the day come. The childbirth. There so many things that u have
should prepared before the labor time coming. Jasadiyah and ruhiyah. Jasadiyah
like ur healthness and strongly physichs, maybe u must preparing about
financial secure too before the time comes. And when u have to prepare ur
Ruhiyah, let’s talk about “improving the signal to the Skies”. Tadzkiroh to the
God that can make us ready when He gave His decree that we have no long time to
live after the birth.
I have told to my husband about this
session, about having no life after the childbirth. Maybe the contraction would
make me die, and I have no power to make sure that I have a life the day after
tomorrow, that I can be a mother who delegate her life for taking care her son.
It just about His Decree. When he (my husband.red) heard about my statement
whether I have no longer life with him and with our baby, because of the labor
of the death, I saw the sadness in his voice when he respond my story although
he won’t to show it out to me. As I know,when we go to sleep, I felt his hug
was very deep and strong, and he kiss my brow repeatedly. I’m not in my
speculation, but seems that he crying because there’s something wet down on my
knees. Oh, I know that he do love me. I
don’t mean that my words would make him sad. Oh, Allah, I love him.
But I’m not kidding about the the death.
U must prepare the best things during ur life for the best life after u die. as "Asy
Syahidah", Insya Allah, the title which was pinned for u mother, if ur
death was because struggling ur kid in the
childbirth time. But.. how ready are you to prepare it?
------To be continued-----
Jumat, 08 Februari 2013
di Negeri Asing bernama Sudan
Sudan sejak 10 tahun terakhir sudah menjadi lirikan mahasiswa Indonesia untuk mengambil dan menimba ilmu di negeri Dua Nil ini.. Gak percaya? check this video.. :)
Jumat, 11 Januari 2013
SUDAN, kekaguman yang tercipta karena kesederhanaannya
Alhamdulillah, it has been 3 weeks I've been leaving in
Khartoum, Sudan. Accompanying my husband to complete his study in master degree
in here. Make a thesis been done in September 2013, insyaAllah.
Pastinya, berada di Sudan menjadi hal
yang amazing dan asing yang berkesan pertama kali untukku. Bagaimana tidak, si
aku ini orang yang gak pernah naik pesawat sebelumnya. Beberapa kali keluar
kota di Indonesia pun kebanyakan naik kereta, atau paling banter naik kapal
laut lah. Ngerasain naik kapalnya juga ketika usia 4 tahun, jadi tidak bisa
memberikan kesan bangga juga karena sudah berkelana jauh. Tapi setelah
bersuami, dan kesepakatan setelah menikah adalah aku ikut bersama suami 3 bulan
setelah menikah, menemani beliau menyelesaikan studinya, akhirnya pun aku
merasakan bagaimana rasanya terbang melayang dibawa oleh burung besi besar
menuju Afrika. I try my first time flight by plane, into Sudan, Afrika! The
country which is far far away from Indonesia. Yang agak bikin deg-deg-an pula
ada calon baby di dalam perut yang ikut terbang bersama bundanya. Hmm..
terbayang bagaimana dag dig dug-nya memikirkan semoga sang janin yang
ditunggu-tunggu kedatangannya oleh ayahnya being fine.
Touch down in Sudan, dan Alhamdulillah
sedang musim dingin. Bayangan panas terik matahari yang memanggang ternyata
belum Allah berikan dengan kenyataannya untukku ketika sampai dan bertemu
dengan sang pangeran yang menunggu untuk menyambutku hangat. Hawa dinginnya
macam di pegunungan lah. Gak ada salju- saljunya juga.. :D
Selama perjalanan hanya bahasa inggris yang
menjadi andalanku untuk berkomunikasi. Dan pastinya ketika di Sudan pun aku
masih belum bisa komunikasi dengan bahasa arab. Hasil pelajaran bahasa arabku
saat SD dan SMP dulu benar-benar hilang dari ingatan. Paling banter yang
diingat cuma في اسبوع القادم انشاء الله (fii usbuu’il qoodim, insya Allah) yang artinya minggu depan insya
Allah.
![]() |
| rikzah itu macam bajaj di Jkt, tp designnya lbh elegan.:D |
![]() |
| Amjad, angkutan lokal dgn tawar menawar harga |
Selama di Sudan, aku tak bisa mengandalkan bahasa arab karena sungguh sangat tidak faham awalnya mereka ini berbicara apa. Terkagum- kagum dengan suamiku yang benar-benar lancar berbahasa Arab saat beliau tawar menawar harga taksi, amjad (semacam mobil pribadi yang dijadikan angkutan umum), rikzah (bajaj) atau saat berbicara dengan orang Sudan. Iyalah, beliau sudah 6 tahun tinggal disini. Karena kemampuan beliau dalam berkomunikasi, otomatis keseharianku tak bisa lepas dari penjagaan suami. Kemana-mana harus sama suami, karena aku tak pandai berkomunikasi.
| Masjid di IUA (International University Of Africa) |
“Gak apa-apa ukhti, kita semua satu
keluarga disini”, kata ummu Muhammad, ibu beranak dua yang sudah 9 tahun
tinggal di Sudan menjawab ketidakenakanku karena sudah merepotkan ikhwah
disini.
Kagum. Ini yang namanya kekuatan ukhuwah. Malu benar aku saat menolak
beberapa titipan mereka karena barang- barangku yang sudah lumayan banyak dan
berat untuk dibawa kesini. Aaaahh,, mesti digetok pula kepalaku karena terlalu
egois dengan diri sendiri. Sedang mereka? Belum kenal dan belum bertatap muka
saja, kedatanganku sudah ditunggu- tunggu oleh mereka.
“ begitu senangnya kami karena ada
saudari baru yang akan hadir, semoga Allah membantu ukhti untuk merasa nyaman
dan betah ya di Sudan. Kalo ada apa-apa, ceritakan kepada kami saja”, begitu
kata ummu kholid saat mengajak ngobrol.
Aaahh,, meleleh hati ini ini dibuatnya.
Ukhuwah islam yang benar-benar terasa antar sesama anak bangsa di negeri orang.
Bahkan beberapa alat rumah tangga sudah mereka siapkan untuk keperluan kami
berdua disini. Seperti kompor, gas, beberapa alat masak, gelas, sendok, bejana
besar untuk mandi, bahkan satu ranjang untuk tidur pun sudah mereka siapkan.
Itu sebelum kedatanganku ke Sudan.
“Afwan ukh, walau bekas, semoga tetap
bisa bermanfaat bagi ukhti dan suami”, Ummu Ikrom kali ini yang membuatku
terpana oleh kebaikan-kebaikan mereka.
Allah, Allah, Allah, aku cinta mereka
karenaMu. Karena ukhuwah yang Engkau perlihatkan padaku saat keterbutuhanku di
negeri ini. Hmm.. belum genap seminggu tinggal di Sudan, Allah sudah memberikan
banyak hikmah kepadaku. Rasa syukur dan rasa cinta kepadaNya menjadi bertambah
kuat setelah sampai di Khartoum. Bantuan- bantuan dari saudara- saudara setanah
air, meyakinkan aku bahwa you were not alone. Ada Allah yang selalu
membersamaimu. Ada cinta dan kasih yang Allah titipkan lewat mereka para ibu-
ibu dan mahasiswa yang telah lama menetap di Sudan. Mereka layaknya keluarga
yang sudah lama bercengkrama, tak peduli dari kota mana di Indonesia, ketika
sampai di Sudan, maka mereka adalah saudara.
Suatu hari, suami mengajakku jalan- jalan
sore ke Amarot. Kali ini ke daerah dekat bandara. tidak jauh dari Riyadh,
daerah yang sementara aku tempati sebelum mendapatkan rumah tinggal di sekitar
Arkaweet, dekat dengan Jami’a Afriqiah (International University Of Africa),
universitas ternama di Sudan dan banyak melahirkan orang- orang hebat dari
sana. Suami mengajakku naik bis. Hamper sama dengan biskota di Indonesia, ada
supir dan ada kondektur yang menagih ongkos kepada para penumpang. Hanya yang
berbeda adalah suasana yang tercipta ketika berada di dalam bis. Kondektur,
tidak seperti di Jakarta yang akan menghampiri satu persatu penumpang, menagih
ongkos pembayaran, kadang mencolek bahu si penumpang tak perduli dia laki-laki
atau perempuan berhijab, di Sudan, sang kondektur tidak mesti menghampiri satu
per satu. Karena formasi tempat duduk penumpang yang hampir sama dengan formasi
mobil elf biasa, dengan penambahan beberapa kursi di dalamnya pada space
kosong, maka kondektur hanya memberikan kode dengan ketikan jari tanda bahwa
dia akan menagih ongkos. Semua penumpang otomatis akan menyiapkan uang
pembayaran. Bagi penumpang yang di belakang, tidak harus repot- repot
mendatangi sang kondektur. Cukup dengan meng-estafetkan uangnya kepada
penumpang yang di depannya hingga sampai ke sang kondektur. Kondektur pun saat
tidak tahu milik siapa uang yang diserahkan penumpang lain, hanya memberikan
kode uang milik siapa ini dan ada yang mengaku uang tersebut adalah miliknya,
kondektur tinggal memberikan kembalian kepada penumpang terdekatnya dan dioper
hingga sampai ke si pemilik. Ongkos naik biskotanya Sudan sekitar 80 piaster /
quruuz (kurang dari 1 pound Sudan).
Sederhana sebenarnya pelajaran yang aku
ambil dari kejadian tersebut. Bahwa dalam biskota pun, mereka menerapkan proses
ta’awun, saling tolong menolong sesame penumpang dan kondektur yang
tidak mereka kenal mungkin satu sama lain. Bayangkan bila ada saja penumpang
yang tak sudi memberikan uangnya lewat penumpang lain hingga diberikan kepada
kondektur, ia pun akan repot menghampiri kondektur yang jauh dari jangkauannya.
Para penumpang pun juga saling membantu memberikan tempat duduk tambahan kepada
penumpang yang baru naik. Memang di biskota sini disediakan tempat duduk
tambahan berupa kursi lipat yang menyatu dengan jok- jok mobil di tengah.
Apabila kursi penumpang utama sudah terpenuhi semua, penumpang yang baru naik
akan duduk di kursi tambahan. Yang bikin kagumnya adalah, penumpang lama akan
membukakan kursi lipat tersebut bagi penumoang yang baru naik dan mempersilakan
duduk. Atau, ketika ada penumpang di belakang yang mau turun, maka beberapa
penumpang duduk di kursi tambahan akan berdiri, melipat sementara tempat
duduknya dan mempersilakan si penumpang untuk turun dan tanpa keberatan, ia
akan menempati kursi kosong yang paling belakang, melipat kursi tambahan yang
baru saja ia duduki untuk nantinya digunakan oleh penumpang baru. Disini, kalau
di biskotannya yang belakang masih kosong, maka mereka tak keberatan untuk
mengisi kursi yang paling belakang dan mempersilakan penumpang baru untuk
mengisi kursi paling depan. Hmm..beda kalo di Jakarta atau Pondok Gede,
penumpang biasanya menginginkan duduk di posisi dekat dengan pintu, karena
tidak mau repot untuk masuk ke dalam. Bahkan ada saja yang tidak mempersilakan
perempuan tua untuk duduk di dekat pintu karena sudah terisi olehnya yang masih
muda, padahal sang nenek tidak sanggup untuk menyusur jauh masuk ke dalam
angkot karena usianya yang renta. Atau di biskota dan busway sekalipun
misalnya, ada laki-laki yang sudah duduk nyaman tak mempersilakan wanita yang
menggendong bayi untuk duduk. Sedang ia asik membaca Koran di tempat duduknya.
Tapi di Sudan berbeda. Mereka bahkan sangat mempersilakan wanita untuk duduk di
tempat mereka, dan hanya membiarkan laki- laki untuk berdiri di dekat pintu.
Wanita menjadi prioritas utama untuk duduk. Apalagi mereka yang sudah tua renta
dan hamil. Supir pun juga tidak mau menaiki penumpang bila tempat duduk
semuanya sudah terisi penuh. Sederhana memang. Tapi membuatku kagum dengan
budaya mereka yang menanamkan nilai- nilai ukhuwah sesama penumpang yang tidak
kenal satu sama lain. Miris dengan banyaknya kejadian disosial di Ibukota bila
melihat budaya ta’awun di negeri orang.
Budaya islam di sini pun begitu terasa. Apalagi
tentang tebar salam sesama kita. Teringat jawaban nabi saat ditanya oleh
seseorang mengenai Islam yang bagaimanakah yang paling baik, kemudian Nabi SAW
menjawab,
“Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada
orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal” (HR. Bukhari No. 11, 27 dan
Muslim No. 39).
Begitu juga di Sudan, budaya memberi
salam kepada setiap orang yang bertemu atau berpapasan sangat terlihat disini.
Bukan hanya kepada orang yang mereka kenal, bahkan kepada orang asing semacam
kami pun, salam tetap tersebar di mana-mana. Pernah aku dan suami sedang
berjalan-jalan sore sambil mencari rumah yang mau ditempati, ada orang sudan
melewati kami, kemudian mengucapkan salam kepada suamiku. “Assalamu’alaikum
Warohmatulloh, Keif, Tamam?” sapanya. Suamiku: Alhamdulillah khoir, anta?”,
Alhamdulillah kuwaiys, syukron”, jawabnya kemudian sambil berlalu. Aku bertanya,
“Siapa zi?” Suamiku: orang gak kenal kok. Dia ngucapin salam aja karena papasan
tadi”. Subhanallah, bahkan di tempat umum seperti ini pun bermuamalahnya mereka
menggunakan budaya yang islami. Mereka gunakan dalam keseharian mereka,saat
berbelanja, saat bertemu dengan pemilik kontrakan rumah, saat bertanya tentang
jurusan mobil yang hendak dinaiki pun, salam itu tetap tersebar. Bahkan sang
kondektur pun tetap ramah menjawab salam yang disampaikan. Subhanallah, bumi
Allah begitu luas, begitu indah, dan alhamdulilah, Islam pun masih tetap
membudaya di belahan benua yang jauh dari Indonesia. Semoga nanti, setelah
kepulanganku dari sini, budaya-budaya itu harus tetap aku tanamkan, even masih
sendiri, namun yang sedikit tapi berulang, semoga insya Allah akan menyebar
kebaikannya kepada sesama. minimal umat Islam yang ada di sekitar rumah. Amiiin.
Langganan:
Postingan (Atom)




