Selasa, 17 Mei 2011

Awas! Akhwat Dilarang Jatuh Cinta!!

Galau gak sih bila ditulis judul seperti itu?

Akhwat dilarang jatuh cinta?? lha memang siapa saya yang berani melarang seseorang untuk jatuh cinta?
apalagi seorang akhwat? yang kita tahu penampilannya kan membuat lembut hati,
yang kita iyakan hijab yang menutupi tampilan tubuhnya menenangkan jiwa,
yang senantiasa melantunkan dzikir hanya untukNya,
yang mencintai saudara-saudarinya just because of Allah Azza wa jalla.

kenapa mereka dilarang untuk jatuh cinta?
bukankah cinta adalah fitrah manusia?
tak pantaskah akhwat jatuh cinta?
bukankah mereka juga punya hati dan rasa?

tapi pernah gak berpikir apakah cinta yang ditautkan pada hati seorang akhwat itu murni?
bersih karena hanya ditautkan untuk Sang Terkasih? yang benar memberikan kecintaan yang paling
sejati di muka bumi?
sudah yakin? pasti? bahwa cinta itu hanya untuk Allah Azza Wajalla?
saat matanya tak jauh memperhatikan lelaki yang belum sah untuknya..
saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya, dan bayangan tersebut selalu bergelayut dalam alam fikirnya?


memang cinta itu indah, indah untuk hati yang sedang berbunga, halal bagi mereka yang sudah mensahkan hubungannya di atas perjanjian Ijab Qabul yang disaksikan seluruh orang yang hadir pada pernikahan mereka dan penghuni langit 'Arsy. 
memang cinta akan membuahkan permata rindu, bagi dia yang diizinkan untuk kita lihat wajah teduhnya lekat-lekat, tapi itu surga bagi dia yang sudah menikah, bukan untuk para lelaki bujang yang belum sah untuk menatap kita, melihat hijab kita.


kenapa bisa akhwat jatuh cinta, tapi salah menempatkan cintanya?
biasanya berawal dari terbukanya pembicaraan yang terlalu bebas antara laki-laki dan perempuan, ikhwan dan akhwat,
kemudian berlanjut pada sms-an tausiyah penggugah hati, balas membalas sms yang tiada henti dan senyam senyum yang tak jelas artinya di setiap malam,
telepon-teleponan hingga penghujung malam, mengalahkan kokok ayam..
membuat mereka terlena dan lupa untuk bermunajat padaNya di sepertiga malam.

tahap selanjutnya, memberikan bantuan-bantuan kecil maupun besar.
memberi pinjaman jaket bagi akhwat yang sedang kedinginan, atau khawatir bila akhwat jatuh sakit dan ingin memberikan 'kehangatan' itu lewat jaket yang dipinjamkannya.
akhwat pun merasa Ge Er saat jaket itu spesial hanya dipinjamkan kepadanya, tidak ke yang lain.

keakraban demi keakraban, pinjam meminjam hingga barang yang mungkin agak sedikit pribadi pun dipinjamkan.
setelah itu berlanjut pada pernyataan 'kenyamanan', setelah itu pernyataan cinta yang membuat sang akhwat jatuh cinta, setelah itu tralala trilili...
mereka rela menjual perasaan dan hatinya yang berharga, rela menggadaikan cintaNya hanya untuk cinta manusia yang semu.. na'udzubillah..

Huff, miris bila mendengar kisah mereka para akhwat yg jatuh salah menempatkan cintanya,
yang rela menyingkap hijabnya karena terenyuh atas rayuan gombal pria yang mengatakan mencintainya dan berjanji akan menikahinya suatu saat nanti. atau memberikan pertanyaan aneh: Don't u wanna be a part of my life then? *iuuuuuuhhh*

geli melihat mereka yang saling membasuh wajah di depan khalayak yang sebenarnya mereka tahu bahwa tak pantas mereka melakukannya.
geram saat melihat tubuh mungil itu digelayuti oleh lingkaran pelukan lelaki kasmaran yang menjanjikan akan terus mendampingi si akhwat hingga akhir hayat, dan tak kan melihat wanita lain masuk dalam daftar cintanya, karena lelaki itu bilang ia bersungguh-sungguh mencintai sang akhwat.
 
ya Allah akhwat, tak bisakah kita belajar dari ananda Fatimah Azzahra radhiallahu'anha, yang pandai menyembunyikan rasa cintanya kepada Ali bin abi Thalib radhiallahu'anhu, hingga akhirnya Allah menghadiahkan Ali sebagai pendamping hidupnya hingga akhir hayatnya?
tak mengertikah kita bahwa Allah sudah menuliskan dia yang akan menjadi imam dan pendamping kita di Lauh MahfudzNya, jauh sebelum bumi Allah ini Ia ciptakan?

pernahkah para akhwat itu berpikir bahwa hati mereka lebih berharga dibandingkan harus diberikan kepada lelaki penuh rayuan, penuh memuji padahal tak harus banyak memuji, memberikan perhatian lebih pada batas kewajaran, tapi belum tentu dialah yang akan menjadi imamnya?

harusnya malu, saat hijab ini melekat dan menutupi auratmu, lalu kau dengan sukarelanya membiarkan itu tersingkap dan diperlihatkan kepada lelaki yang hanya berikrar bahwa ia berjanji akan menikahimu tapi belum tentu Allah juga berkehendak seperti itu.

lantas? apa jadinya hati seorang akhwat itu, ketika tiba-tiba lelaki itu mencampakkannya.
mengatakan bahwa hubungan sudah tidak cocok lagi dan tidak akan mungkin perasaan - perasaan itu menyatukan dua insan tersebut?
yang lebih parah lagi adalah saat lelaki itu mengatakan alasan pemutusan hubungan tersebut adalah karena ingin merubah diri menjadi diri yang lebih baik dan hanya ingin menunggu takdir dari Allah untuk wanita yang memang Allah gariskan untuknya, namun di perjalanan mata tak jauh dari melirik akhwat yang lebih 'sempurna' penampilannya. Na'udzubillahi min dzalik.

bayangkan bagaimana jiwa yang terguncang, hati yang tersakiti, perasaan bersalah dan menyesal yang berkecamuk, karena merasa sudah dicampakkan?
penderitaan yang tiada henti , kegelisahan, dan air mata penyesalan yang tiada henti atas cintaNya yang ternodai.

STOP ukhti!!! bagi kalian yang sudah pernah merasakannya, matikan rasa-rasa itu secepatnya!
jadikan ini ujian dari Rabbmu..
Matikan rasa itu secepatnya! secepatnya!
Pasang tembok pembatas antara kau dan dia..
Pasang duri dlm hatimu agar rasa itu tak tumbuh bersemai..
Cuci dgn air mata penyesalan akan hijab yg tersingkap..
Putar balik kemudi hatimu, agar rasa itu tetap terarah padaNya..
Pupuskan rasa rindu padanya dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan cinta Rabbmu..


bagi kalian yang belum pernah,
isi hati dengan selalu dzikir padaNya,
beristighfar sebanyak mungkin
untuk menghapus hasrat-hasrat yang mungkin pernah tertancap dalam fikir.
Biarkan Allah yang mengaturnya.
Karena skenario Allah Maha Luar Biasa indah..
tapi kitanya saja yang suka ngeyel dan memaksakan kehendak.

Bila akhwat tahu, Allah itu Maha cemburu. Marah saat hambaNya meletakkan cintanya tidak pada tempatnya, tidak untuk Sang Pencipta.. padahal Allah sudah memperingatkan dalam firmanNya:
 "Dan katakanlah pada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat.........." (QS: 24: 31)
Lagipula, masih banyak agenda da'wah yang menunggu kita untuk membahasnya dan mengkonkretkan gerakannya, ketimbang harus mempersoalkan tentang jatuh cinta. ;)
Tenanglah ukhti,, tulang rusuk tak kan tertukar kok.. :)


untuk kalian para lelaki, para ikhwan, kaum adam yang mendadak menjadi pujangga..
hapus rencana jahat kalian yang mengatasnamakan cinta,
STOP mendekati perempuan yang belum sah menjadi milikmu yang belum tentu Allah takdirkan untukmu..
Gak ada tuh yang namanya main take-take-an
bila sudah ada niat dan sudah siap ya maju, khitbah secepatnya, segerakan akad!!
kalau hanya niat namun belum siap ya relakan sajaaaa...!
bukankah benar apa kata Salim A Fillah sesuai kisah Ali r.a:
"Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan"

 Lagipula, tegakah kalian melihat akhwat yang sudah pernah kalian iming-imingkan ikatan pernikahan, lantas kalian campakkan begitu saja, karena sudah tak ada lagi rasa itu di dalam hati kalian?
Asal kalian tahu, banyak para akhwat itu yang akhirnya putus asa, larut dalam penyesalan, hilang dari dunia karena tak ingin aibnya menodai pernikahan yag harusnya suci mereka dapatkan. lantaran dahulu mereka rela memberikan kesucian hijab itu kepada laki-laki tak bermoral. yang mengatasnamakan iman.. na'udzubillah..
Bayangkan itu adalah saudara kandung perempuan kalian sendiri!!



kalo saya, saya tak ingin jatuh cinta, karena "jatuh" itu menyakitkan!! saya hanya ingin membangun cinta bersama ia yang akan datang nantinya. karena membangun cinta itu indah, terutama cinta karena Allah.

Minggu, 01 Mei 2011

Proposal Untuk Anak

Malam ini saya masih berkutat dengan laptop kecilku. Tak ada sesuatu yang luar biasa memang sebelumnya kuketikkan pada tuts tuts keyboardku.. Hanya saja, setelah membaca sebuah notes teman, bersumber dari cerita yang Ia dapatkan dari seorang sahabat, menjadi begitu bergairahnya diri ini untuk kembali menceritakan apa yang telah saya baca. Dan betapa tulisan itu kembali membuat saya berpikir untuk mengenang, dan me-rewind tentang kekuatan VISI hidup. Sudah menjelma sebagai apakah ia?
Kali ini tulisan yang menggugah saya itu, berbicara tentang anak. Membuat proposal untuk anak. Proposal untuk anak?
Ya, awalnya pun saya juga bingung, apa maksudnya? Sementara orang selalu berbicara bagaimana caranya membuat proposal nikah yang indah dan menarik perhatian para pujangga pencari cinta, orang sibuk memikirkan kapan Ia akan dilamar, atau kapan seorang akan melamar seorang akhwat, kali ini tulisan itu malah membuat saya kagum setelah keheranan saya –tentu saja- bahwa sambil menunggu dia yang ditakdirkan akan datang pada kita pada waktunya, maka susunlah rancangan kesuksesan dalam hidup, khususnya, akan menjadi apa anak-anak yang telah kita lahirkan? Apakah mereka akan menjadi generasi penerus dan selalu memberikan perbaikan-perbaikan di segala lini? Apakah keluarga kita, anak-anak kita kah yang menjadi contributor aktif peradaban dunia. Apakah peraih nobel perdamaian dunia salah satunya adalah anak-anak yang kita lahirkan dan kita selalu mendidiknya dengan penuh kasih sayang?
Harusnya kita bukan lagi sibuk dengan siapa yang akan menjadi calon istri/ calon suami kita. Sudah bukan cerita langka lagi saat seorang akhi sibuk membuat kriteria ukhti yang akan menjadi calon pendamping hidupnya kelak. Ketika mulai berumah tangga, maka baru mulailah merancang situasi kehidupan mereka berdua, rumah tangga, dan anak-anak mereka. Tapi mungkin tak banyak yang berpikir dari awal saat masa lajang, sudah sibuk dengan rancangan proposal anak-anak yang akan lahir dari keluarganya, kemudian mengajukan proposal itu kepada Allah SWT dan berharap bahwa Allah akan meng-ACC nya lewat doa-doa yang selalu ia panjatkan.
Ketika sepasang suami istri menjalankan biduk rumah tangga, maka harapan utama mereka adalah melahirkan keturunan sebagai penerus generasi. Harapan mereka, anak yang dilahirkan akan menjadi anak yang shaleh dan shalehah memenuhi cita-cita kedua orang tuanya dan bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, negara dan agama. Anak diharapkan menjadi ”cahaya mata” dalam keluarga. Namun seperti apa gambaran ”cahaya mata” ini, sebenarnya tergantung dari bagaimana orang tua membentuk dan mengarahkan. Apakah perlakuan orang tua terhadap anak sebagai ”cahaya mata” telah tepat?
Masalah bangsa ini terlalu banyak, maka dibutuhkan generasi unggul untuk bisa menyelesaikan berbagai masalah bangsa. Salah satu ikhtiar penting yang harus dilsayakan oleh kita hari ini adalah, kita harus merancang generasi masa depan yang akan menjadi solusi bagi permasalahan bangsa.
Sharing dengan tulisan yang tadi, beliau menulis seperti ini, bahwa sang ustadz bercerita, bahwa beliau punya seorang guru dengan gelar doktor saat masih belajar di LIPIA. Guru beliau ini bercerita bahwa dirinya punya sepaluh saudara. Habatnya, sepuluh saudaranya adalah doktor dan pakar di bidangnya masing-masing. Itu belum seberapa karena ayah dan kakek dari guru ini juga terdiri dari sepuluh bersaudara dan semuanya pakar di bidang masing-masing dan semua bergelar doktor. Jadilah kelas ustadz riuh kagum dengan keluarga sang guru. Diskusi dalam kelas itu akhirnya berlanjut dengan pertanyaan, bagaimana keluarga sang guru bisa sehebat itu? Sang guru menjawab, karena orang tua mereka telah membuat proposal rancang kehidupan untuk anak-anaknya sebelum mereka lahir, bahkan sebelum berada dalam kandungan. jadi orang tua sang guru, telah membuat rancangan, anak pertama jadi pakar di bidang ini, anak kedua jadi pakar di bidang itu, anak ketiga jadi pakar di wilayah ini, begitu seterusnya sampai anaknya yang kesepuluh. Rancang proposal itu kemudian diajukan kepada Allah swt dan alhamdulillah Allh swt meng- acc semua proposalnya.
Di dalam Al-Qur'an ada tiga orang yang telah di ACC oleh Allah bagaimana kehidupannya di dunia sebelum mereka lahir bahkan sebelum mereka berada di alam rahim. Ketiga orang tersebut adalah : Maryam binti Imron, ibu dari nabi Isa 'alahissalam; Yahya bin Zakariya 'alaihissalam; dan Muhammad Saw.

Proposal yang diajukan oleh Bu Imron (tidak disebutkan dalam Al Qur'an siapa nama istri Imron) untuk Allah atas anak yang sedang dikandungnya tercantum dalam surat Ali Imron ayat 38 - 39

(Ingatlah), ketika isteri 'imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya saya menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padsaya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"

Maka tatkala isteri 'imran melahirkan anaknya, diapun berkata:
"Ya Tuhanku, sesunguhnya saya melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya saya telah menamai dia Maryam dan saya mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."

Baitul maqdis saat itu mirip seperti masjid zaman ini. Megah tetapi miskin pengunjung. Keluarga Imran ingin menjadi solusi bagi permasalahan umat. Maka dinazarkan dan diajukan kepada Allah sebuah proposal agar anak yang dikandungnya nanti menjadi pengabdi baitul maqdis. Allah swt kemudian melahirkan maryam yang menjadi solusi umat, bahkan maryam melahirkan seorang nabi.

Orang kedua yang telah di acc oleh Allah swt rancangan proposal hidupnya oleh Allah Yahya bin Zakariya. Zakariya adalah guru dari Maryam binti Imran. Zakariya selalu menyaksikan kemu'jizatan pada diri Maryam selama dalm proses belajar.  Diantara kemu'jizatan itu adalah selalu hadirnya makanan setiap kali Zakariya akan mengajarkan ilmu pada Maryam.
Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS 3 : 37)

Karena kekaguman Zakariya pada Maryam, maka Zakariya berkunjung kepada orangtua Maryam dan bertanya apa resepnya sehingga Maryam menjadi seorang perempuan yang salehah dan menjadi kekasih Allah..setelah mendapat resep dari keluarga Imran, mulailah Zakariya berdoa dan mengajukan proposal pada Allah agar diberikan seorang putra. Padahal saat itu Zkariya telah tua dan istrinya mandul. Tetapi akhirnya Allah mengabulkan proposan Zakariya dan lahirlah Yahya yang juga seorang Nabi Allah. Allah swt mengabadikan kisah ini dalam surat Ali Imron ayat 38-40

Di sanalah Zakariya mendo'a kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah saya dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do'a"

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melsayakan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh".

Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana saya bisa mendapat anak sedang saya telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?". Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya".
Berkata Zakariya: "Berilah saya suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari".
 Selanjutnya, orang yang telah di acc proposal hidupnya oleh Allah sejak sebalum lahir adalah Nabi Muhammad saw. Bahkan proposal hidup Rasulullah di acc ribuan tahun sebelum Rasulullah saw lahir. Proposal itu diajukan oleh kakek moyangnya yaitu Nabi Ibrahim 'alaihissalam
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana" (QS 2 : 129)
 Itulah doa nabi Ibrahim untuk nabi akhri zaman, seorang nabi dengan tugas utama dalam hidupnya membacakan Al Qur'an, mengajarkan Al Qur'an, mengajarkan hikmah, dan menyucikan jiwa atau sering dikenal dengan aktifitas tarbiyah.
 Allah pun meng-acc doa Nabi Ibrahim ini dengan, salah satunya disebutkan dalam surat Al Jumu'ah ayat 2 - 3 :
 Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,  dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah benar-benar meng-acc permohonan nabi ibrahim yang contennya adalah misi hidup Muhammad, yaitu mentarbiyah umat dan menjadikannya guru peradaban dunia.
            Maka dari itu, kita harus mulai merancang nantinya akan memiliki putra-putri dengan kualifikasi seperti apa. Terlalu banyak masalah bangsa ini untuk diselesaikan. Maka jadikan keluarga kita menjadi solusi dengan menghadirkan generasi terbaik. Susun proposal itu kalau bisa sebelum menikah, jadi kita tidak perlu sibuk dengan kriteria istri/ suami kita nanti seperti apa. Ajukan saja kepada Allah proposal anak-anak kita sehingga kita akan dipertemukan dengan ibu atau bapak yang sesuai untuk menghasilkan generasi yang sudah kita rancang. Kalaupun sudah menikah, bisa dirancang sebelum istri hamil atau paling lambat sebelum usia kehamilan 120 hari karena kalau dirancang setelah usia tersebut sesungguhnya Allah telah menuliskan perjalanan hidup anak tersebut.
Buatlah rancangan yang konkret untuk masing-masing. Mintalah pada Allah agar mereka menjadi expert di bidang tertentu dan bisa menyelesaikan masalah umat.
Maka dari itu ikhwahfillah, kembali lagi kita revisi rancangan visi hidup kita, dengan menambahkan rancangan proposal untuk generasi yang kita lahirkan. Kemudian, ajukan itu pada Allah SWT, biar Allah saja yang akan mengaturnya kemudian.
Wallahu a’lam bishshowab



Senin, 04 April 2011

Share it,, Teruntuk calon suamiku.. :)

Bismillah....

Wahai seseorang yang telah tertulis dalam lauhul mahfudz-ku, imamku dan ayah dari anak-anakku, engkau yang membersamai perjalananku nanti...
Apakah yang sedang kau lakukan di sana?

Aku percaya kau sedang memperbaiki dirimu, memantaskan dirimu tuk menjadi imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu kelak...
Aku percaya kau sedang menempa dirimu dalam beribu cobaan dengan menelantarkan dirimu sendiri pada medan dakwah dan problematika ummat... mencampakkan jauh egomu, membaktikan dirimu tuk ummat...
Aku percaya kau sedang mengkaji, kau sedang belajar, belajar ilmu dunia terutama ilmu akhirat, yang akan kau gunakan dalam mendidikku dan buah hati kita nanti...
Aku percaya Quran selalu ada dalam hatimu, selalu terucap dari bibirmu dan dzikir slalu melantun menemani langkah jihadmu...

Aku percaya kau sedang menundukkan pandanganmu, menjaga hatimu dan mencampakkan hawa nafsumu...
Aku percaya kau sudah merancang hidupmu, hidup kita, keluarga kita, nantinya juga untuk dakwah, untuk ummat, dan hanya karnaNya...
Aku percaya, kau sedang memantaskan diri dan terus memperbaiki diri di sana, di belahan bumi manapun kau berada...
Aku pun begitu sayang...

Aku sedang belajar... belajar menempa diri, menjauhkan egoku demi ummat, membaktikan diriku untuk orang lain, agar baktiku padamu pun sempurna...
Aku sedang belajar, meniti dakwahku, meniti cita-cita duniaku, meniti cita-cita akhiratku, agar kelak keluarga Islami dan kluarga Qur’ani yang aq inginkan nanti dapat kubangun bersamamu... karna kau tahu? meskipun kau imamku, ibu adalah madrasah pertama bagi mujahidah kecilnya nanti...
Aku sedang belajar menjaga diri, menjaga pandangan dan hatiku, agar ketika kau memiliki hati ini, hati ini masih utuh sempurna hanya untukmu...


Aku sedang menempa diri, untuk menjadi seorang Khadijah untukmu, yang menjadi tempatmu membagi resah... seseorang yang kau datang padanya, saat kau tak tahu lagi akan datang pada siapa... seseorang yang menguatkanmu dan menggenggam slalu tanganmu dalam perjalanan jihadmu...

Akupun ingin menjadi ‘Aisyahmu, seorang yang membuatmu tersenyum dan kembali ceria saat penatmu mulai datang, seorang yang menyerap ilmu darimu dengan sempurna dan membenarkan apa-apa yang salah dalam lakumu, seseorang yang mencintaimu dengan cemburunya, namun kau rasakan sakitnya, saat ia tersakiti, hingga kau katakan pada yang lain “janganlah kau sakiti aku dengan cara menyakti ‘Aisyah”...

Aku ingin menjadi Fatimah, yang tak kau bagi cintamu pada yang lain.. bukan karna aku tak percaya kau tidak dapat berlaku adil, tapi karna aku ingin mencintaimu dengan sempurna, tanpa diganggu oleh cemburuku, itu saja...
Tak kalah lagi, aku ingin menjadi seperti ibunda hajar, yang tak gentar saat kau tinggalkan di padang pasir tandus dengan seorang bayi mungil dipelukan.. tak takut akan kehilanganmu, karna keyakinanku pada Rabbku lebih besar daripada yakinku padamu... cintaku padamu, tak akan mengalahkan cintaku pada Rabbku...
Usahaku ini tidak mudah sayang, begitupun usahamu...kuyakin itu...

Maka tetaplah dalam jihadmu...tetaplah dalam usahamu...tetaplah dalam ikhtiarmu... aku yakin kau kuat di sana, dan doakanlah agar akupun kuat di sini dalam jihad dan ikhtiarku...bawalah aku dalam tiap doa dan sujudmu, kumohon... karna doa yang dapat menolongku...
Hingga saatnya, kita bertemu dalam ikatan suci menyempurnakan separuh dien... dan kita akan melanjutkan jihad kita bersama...

Dan nanti...terimalah aku apa adanya jika aku belum bsa mejadi khadijahmu, ‘aisyahmu atau bahkan menjadi seperti ibunda hajar... tapi bimbinglah aku menjadi seperti mereka... dan kita bimbing bersama mujahid muda kita nanti tuk melanjutkan estafet perjuangan dakwah ini...
Teruntukmu yang ada di sana, kuatlah...dan bersabarlah...
Bawalah aku dalam doa dan sujudmu, agar cinta kita nanti, hanya karnaNya...aamiin...

Oleh Aisyah
http://www.anahumayrah.com/

Selasa, 29 Maret 2011

Tingkah mereka yg membuatku tertawa

Lihat dia,, tampak senang dengan makanan favoritnya.. :)


 This is just for me!! i don't want to share it with anyone!! no one..

aku tak mau kalian berantem lagi.. sekarang baikan yaa.. :)

bunda, aku sangat bersyukur bisa hidup di dunia dengan pemandangan indah ini.. Tuhan sayang sekali padaku ya bunda..

Yang paling senang main air ataupun berenang itu anak2, karena sudah terbiasa berenang saat di dalam janin, anak sebenarnya tidak akan takut untuk berenang. Hanya karena traumatik yang secara tidak sadar diberikan oleh orang tua mereka memungkinkan mereka tak pandai berenang.

Suka gambar ini banget.. Like that so!! ^^

keceriaan mereka yang membuatku selalu tersenyum dan melupakan semua amarah..
kids, you always make me happy..:)
setelah bermain seharian, berlari-lari di dalam ruangan, dia tak sanggup lagi menahan kantuknya.. ZZZzzzzzzz...


ada gak yang lebih jenius dari anak ini? :D

anak-anak selalu membuat saya berpikir nyastra.. walau tak pernah bisa..
they always make me happy,, giving me a happiness.. and i always learn from them about it.. :

Tapi mereka selalu terlihat bebas, tanpa masalah. karena itulah yang membuat aku suka mereka.
calon generasi besar,, ide-ide dan gagasan terbaik mereka akan berbuah hasil pastinya untuk dunia..
Jadi inget,, ada puisi kahlil gibran untuk para anak..begini puisinya :
"Anakmu bukan Anakmu"
oleh Kahlil Gibran

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah masa depan,
yang tak pernah dapat engkau kunjungi, meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur, dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian,
dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya,
sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan Sang Pemanah itu sebagai kegembiraan,
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap dan teguh
yup..kitalah busur itu..dan panah mengarah sesuai dengan arahan busur.. aku tak kan membiarkan calon panahku nanti, mengarah pada tujuan yang tidak benar.. dengan memberikan kebebasan pada mereka, tapi tetap memperhatikan mereka.. I LOVE them so much..

Selasa, 22 Maret 2011

IKHLAS...IKHLAS..IKHLAS..

Aku tak butuh pujianmu, aku tak butuh kesaksian kalian atas apa yang ku lakukan..
aku tak butuh senyum merekah dan sahut-sahutan yang meng elu-elukan diriku, lantaran ada sebilah kaca yang kusingkirkan dari tengah-jalan atau perjuangan menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran bahkan uang,  lantaran aku tetap menggeluti pekerjaan yang sedari dulu tak pernah ingin kutinggalkan.. bahkan kalian hanya menertawaiku.." hahaha,, buat apa masih tetap di sini, fah,, kok gak jadi berangkat ke Jerman?"
di dalam ruang gurun perjalanan menuju satu.. RidhaNya..
aku hanya ingin Dia yang memujiku.. membanggakanku di depan para malaikatNya, karena sikapku, karena pekerjaanku, karena sifatku yang membuat Ia mencintaiku.. aku hanya ingin Dia yang mencintaiKu.. karena aku percaya cintaNya, aku senang pujian dariNya. bahkan aku iri ingin seperti mereka yang selalu Ia banggakan di kitabNya yang penuh inspirasi qalbu.. aku ingin seperti mereka, masuk dalam daftar mereka yang Ia banggakan, yang membuat bidadari-bidadari surga, Ainil Mardhiyah sekalipun cemburu pada kami, cemburu padaku..

ya Rabb,, jangan Engkau hilangkan kerinduan ini yang sekarang selalu menyerang qolbu, untuk terus mendapatkan RahmatMu, untuk terus menyenangi perjalanan yang penuh liku, karena aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang Engkau sebut di FurqonMu ya Rabb..
karena aku ingin tetap berjuang di jalan penuh semak, lubang dan duri ini, walau duri menusuk pasti akan kutemui, walau semak harus dengan susah payah kubabat habis, demi jalan lapang dan luas mencari surgaMu..

aku hanya ingin keberkahanMu, aku hanya ingin Engkau yang melihat hasil kerjaku, Yang memuji kinerjaku, Yang senang menerima laporan kerjaku hasil auditing dari malaikat-malaikatMu di waktu pagi dan sore hari..
aku ingin seperti mereka yang Kau sebut dalam qur'an..



 Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. 48:29)
Ah,, aku ingin benar-benar masuk dalam daftar ini!!! :') dan... coba kita lihat tafsirnya.. :)
Orang-orang yang beriman itu selalu mengerjakan salat dengan khusyuk, tunduk dan ikhlas, mencari pahala, karunianya dari Allah dan keridaan-Nya.
Tampak di wajah mereka terlihat bekas sujud. Yang dimaksud dengan bekas sujud di sini, ialah air muka yang cemerlang, tidak ada gambaran kedengkian dan niat buruk kepada orang lain, penuh ketundukan dan kepatuhan kepada Allah SWT., bersikap dan berbudi pekerti yang halus sebagai gambaran keimanan mereka. Mengenai cahaya muka seseorang ini, Usman ra berkata: "Adapun rahasia yang terpendam dalam hati seseorang: niscaya Allah SWT menyatakannya pada roman mukanya dan keseleo lidahnya". Sifat-sifat yang demikian itu adalah sifat-sifat yang terlukis dalam Taurat. Sifat-sifat mereka yang terlukis dalam Injil; ialah; para sahabat dan pengikut beliau semula sedikit, kemudian bertambah dan berkembang dalam waktu singkat seperti bijian yang tumbuh, mengeluarkan batangnya, lalu batang bercabang dan beranting, kemudian menjadi besar dan berbuah sehingga menakjubkan orang yang menanamnya, karena kuat dan indahnya, sehingga menambah panas hati orang-orang kafir. Demikianlah agama Islam, Rasulullah saw dan para pengikutnya pada permulaan tumbuh dan berkembangnya. Kemudian kepada pengikut Rasulullah saw itu baik yang dahulu maupun yang sekarang Allah SWT menjanjikan pengampunan dosa-dosa mereka, memberi mereka pahala yang banyak, dan menyediakan surga sebagai tempat yang abadi bagi mereka. Janji Allah SWT yang demikian itu pasti ditepati.
Ilahana ya Allah,,, aku rindu.. aku ingin IKHLAS seperti mereka.. aku ingin menghilangkan rasa-rasa ujub yang menyayat hati.. :')

Kamis, 17 Maret 2011

Semangat GAMBARU!!!



Ahsanu 'amala...mujahadah...dicontohkan bangsa yang belum kenal Rabbul 'alamin.
BAgaimana dengan dengan kita?

Say YES to GAMBARU !

by Rouli Esther Pasaribu

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah
tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang
mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena
tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto
gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni
gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama),
motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih
lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain
selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 yang cemen gitu2 aja yang
kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya... berhenti aja.
Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya :

"doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun
juga dan berusaha abis-abisan)

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras"
dan "mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter
ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti
keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas
persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan
itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada
dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa
dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga
ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah
hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh
gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang
tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga
boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai
itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37
derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi
sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia
melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di
tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis
Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang,
mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru
sampe titik darah penghabisan it's a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting
banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi
dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di
indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di
padang, letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk
dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh
lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan
tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Mencontoh TV kita . . . . . wajaaaaaaar banget kalo kemudian
pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini.
Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga
tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya
bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar
ala lagu-lagu Ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang
berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan
kosong tak punya harapan. Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini
benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat
wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama
bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala Ebiet diputar di
stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam.
Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu
(lagu ala Ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak
negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada apaan dong?

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :
1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu
menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar
warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan
pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam
5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang
terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga
yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar
bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya
tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi
bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru,
yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan
sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :

*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget,
tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di
tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara.
Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan
menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena
itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat
melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik
bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai,
lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan
bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat
yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah
Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya
terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa
dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa
dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU.
Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan
dalam hidup.

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan.
Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua
kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka
tanyalah pada rumput yang bergoyang.....I guarantee you 100 percent,
selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat
sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. kalau ditilik
lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan
hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab
terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas
lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah,
ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru
ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan,
untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada
gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau amerika sekalian,
kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir
juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya
mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh
sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga
akan bisa survive di sini. Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw
ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat
lainnya.

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang
menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. Pernyataan
beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang
adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life
adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu.
Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di
mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang
abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang
ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. Dan gw bersyukur ada
di sini, saat ini.

Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus,
di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau
di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga. Sebaliknya,
gw akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni
gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha
itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni
tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan
terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan
mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap
hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian
semuanya, orang-orang Jepang).

Share the happiness

Sabtu, 12 Maret 2011

Bukan kita yang membuat mereka Bahagia, tapi merekalah yang membuat kita bahagia

Adalah merupakan fitrah bagi anak-anak untuk senantiasa riang dan bahagia, dimanapun mereka berada. Kita bisa melihat di televisi misalnya, ketika terjadi musibah banjir, peperangan (ditenda pengungsi) dan lain-lain, anak-anak senantiasa riang gembira bermain bersama teman-temannya, seolah-olah mereka tidak perduli, dimanapun mereka tinggal. Ketika rumah dan daerahnya kebanjiran, mereka asyik berenang dan bermain dengan teman-temannya. Ketika ditempat pengungsian, merekapun asyik bermain riang gembira bersama teman-teman (baru) nya.
Jadi dimanapun mereka berada, tidak peduli apakah ditempat pemukiman yang mewah atau tempat kumuh, mereka senantiasa riang dan bahagia bermain dengan teman-temannya.Kita yang menyaksikan mereka tertawa gembira, terimbas pula kebahagiaan yang mereka ciptakan. Coba perhatikan matanya yang menyorot dengan tulus kepada kita, ketika kita mengajaknya bicara. Senyumnya yang selalu ikhlas kepada kita. Tidak pernah mereka berpura-pura kepada kita. Mereka tidak pernah mengungkapkan perasaannya dengan berpura-pura. Tidak ada kemunafikkan, kebohongan dan kelicikkan ketika kita melihatnya. Mereka berkata apa adanya, tersenyum apa adanya dan apapun yang ada pada perasaan mereka akan mereka ungkapkan dengan kepolosan yang murni.


Bukan kita yang membuat anak-anak bahagia, tetapi anak-anaklah yang membuat kita bahagia

Ketika mereka bertengkar dengan teman-temannya, sehebat apapun pertengkarannya, pasti akan berakhir dengan perdamaian. Tidak ada dendam dalam diri mereka. Coba perhatikan ketika seorang anak bertengkar karena memperebutkan mainan dengan temannya. Walaupun pertengkaran yang terjadi sedemikian hebatnya, ketika kita memisahkannya, sejurus kemudian mereka berdamai kembali, mereka lupa telah bertengkar hebat sebelumnya.
Bandingkan dengan kita! Kita kalah oleh mereka! Ketika kita bertengkar karena kesalahpahaman, maka walaupun sudah bermaaf-maafan, masih tersisa di hati kita perasaan dendam, yah… minimal perasaan tidak enak, gamang dan lain-lain ketika kita bertemu dengan orang yang pernah bertengkar dengan kita. Kita harus belajar dari mereka, belajar memaafkan dan belajar berdamai.

Bukan kita yang mengajarkan cara memaafkan kepada anak-anak, tetapi merekalah yang mengajarkan cara memaafkan kepada kita.

Kita tidak akan bisa mengalahkan stamina anak-anak. Energi mereka seolah-olah tidak ada habisnya. Mereka bisa bermain, berlari-larian, kejar-kejaran, pagi, siang bahkan malam hari, seolah-olah tanpa merasa letih. Kita akan letih kalau menemani mereka. Energi mereka terletak pada kepolosan mereka, keingintahuan yang besar, keceriaan, kebahagiaan, daya khayal mereka yang tinggi, dan terutama kebersihan perasaan mereka. Tidak ada siasat busuk, ambisi duniawi berupa keinginan harta atau jabatan dan kedudukan. Tidak ada itu semua! Inilah sumber energi terbesar mereka. Kita harus belajar dari mereka, bagaimana menjadikan itu semua sebagai sumber energi kita, sehingga kita bisa beraktifitas (beramal sholih) tanpa merasa letih dan bosan.

Bukan kita yang mengajarkan bagaimana hati yang bersih itu kepada anak-anak, tetapi merekalah yang mengajarkan bagaimana hati yang bersih itu kepada kita.
Mereka adalah makhluk tanpa dosa. Mungkin mereka melakukan kesalahan. Tetapi itu biasanya karena mereka tidak tahu, atau mungkin mereka sedang belajar. Belajar untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Belajar untuk mengetahui bagaimana reaksi kita (orang tua) terhadap kesalahan yang mereka perbuat. Tetapi sebesar apapun kesalahan mereka Allah SWT tidak akan meminta pertanggung-jawaban kepada mereka. Allah SWT tidak akan mencatatnya. Beda dengan kita. Kalau mereka melakukan kesalahan, kita langsung menghukumnya. Padahal Allah SWT tidak. Bagaimana kita disebut orangtua yang bijak, kalau Allah SWT yang Maha Bijaksana saja tidak menghukumnya? Apa hak kita menghukumnya, padahal mereka bukan milik kita, tetapi milik Allah SWT. Kita hanya dititipi. Allah SWT yang menciptakan mereka untuk kebahagiaan kita, bukan kita yang menciptakan mereka.
Tetapi kadang kita menghukumnya dengan alasan untuk mendidik mereka. Padahal didikan yang terbaik adalah dengan lemah lembut dan santun. Ajaklah dan bimbinglah mereka dengan cara yang baik, lemah lembut, dan dialog yang baik, sebagaimana Allah SWT mengajarkan kita untuk bersikap seperti itu. Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk berda’wah kepada Firáun yang kejam dengan cara yang lemah lembut. Kepada Fir'aun yang dzalim saja harus lemah lembut, apalagi kepada anak-anak.