Rabu, 31 Agustus 2011

Indahnya Eid Fitri, Buahnya Berkah Ramadhan

Allahu Akbar... Allahu Akbar Allahu Akbar..
Laa ilaaha illallaahu wallallahu Akbar..
Allahu Akbar,,
Walillahilhamdu...

Gema Takbir berkumandang di seluruh penjuru masjid dan di sepanjang jalan raya..
tabuh genderang menyambut hari raya esok harinya selalu membuat merinding..
Rasa Senang, namun lebih mengusik rasa haru dan sedihku kali ini..

Haru,, karena Allah selalu menghadiahkan bulan baikNya untuk mereka yang bertaqwa, memberikan bonus- bonus bagi umat Rasulullah yang merindu dengan pahala-pahala kebaikan yang luar biasa di tiap tahun Ramadhan.

Sedih, karena ramadhan Ramadhan tahun ini benar-benar memberikan kesan Qur'an padaku yang tak rela kulpeaskan kepergiannya, namun tak kuasa saat ia bergegas pergi.. menyiapkan segala sesuatunya untuk kemasan 'hadiah' bagi umat muslim yang bertaqwa tahun depan.. Namun aku tak kan pernah tahu apakah dapat bertemunya kembali atau tidak.

Aku pun percaya, bahwa indahnya suasana di hari lebaran adalah buah dari berkahnya ramadhan yang mengiman dalam hati setiap umatnya. kebersihan hati yang dipupuk saat Ramadhan mulai menampakkan wajah baru dan enak dipandang ketika lebaran tiba..

yang kuinginkan adalah,,
momen lebaran,, dengan semboyannya "kembali suci di hari nan fitri", atau "mulai dari nol lagi' harusnya menjadi quote yang elegan untuk para umat untuk selalu membasahi ruhiyahnya dengan pribadi yang qur'ani.. momemn lebaranlah yang menjadi kesempatan untuk mempraktekkan akhlakul karimah..

*setelah melihat bagaimana perawakan kebanyakan manusia setelah Ramadhan,, kembali dulu.. tak manis seperti mereka berada di Bulan Ramadhan.. :(

karena kita tahu bahwa sukses tidaknya ramadhan kita tahun ini adalah bagaimana kita berperilaku dan berakhlak di 11 bulan berikutnya..
Memperbanyak pula amalaan sholih pasca Ramadhan, harusnya sudah menjadi agenda wajib kita agar selalu dapat raih ridhoNya hingga akhirat merindukan kedatangan kita dan surga berebut memberikan undangan kepada kita masuk sebagai penghuninya..

amalan-amalan yang tak terlihat berat, *karena dapat dijalankan saat kita menjadi penghuni Ramadhan, harusnya juga tak menjadi berat untuk amalan kebaikan kita di bulan syawal dan 10 bulan lainnya..

-memperbanyak senyum, menebar salam, perbanyak salam, selalu berwajah ceria dan ramah, memperbanyak sedekah, mendahulukan orang lain dalam perkara non-ibadah, saling menasehati dalam kebaikan, memuliakan tamu, menjaga pandangan, tawadhu' dan tidak pamer kekayaan, selalu memperbanyak interaksi dengan Alqur'an dan ak pernah melupakan ibadah waajib serta sunnah-

Insya Allah,, dengan tetap menjalankan perkara-perkara tersebut,, tahun ini pun kita tetap menang..
hingga Ramadhan akan sudi menyambut kita di surga dari pintu Arrayan.
amiiiiin..

Yaa Mujiibassailiiin.. perkenankan do'a hamba,, agar tetap bisa bertemu dengan RamadhanMu tahun Depan..
Allahumma hallimna hifdzul kitaaabak,, Allahumma Sahhil umurona wa umuro waa lidaina wa umurol muslimiina fiddunya wal aakhirah..

ya Allah ridhoilah kami masuk dalam surgaMu, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.

Jumat, 08 Juli 2011

Cinta di tas Cinta..

Perempuan oh perempuan! Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya, jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!

Itulah misalnya pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya, Umar seorang ulama, bahkan seorang mujahid. Namun, ia besar di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.

Namun, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasinya. Ia pun bertaubat. Sejak itu, ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. “Aku takut pada neraka,” katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri.
la memulai perubahan besar itu dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras itu membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam waktu 2 tahun 5 bulan, tetapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulal’a’ Rasyidin. Maka, ia pun digelari Khalifah Rasyidin Kelima.

Akan tetapi, itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Namun, istrinya Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang, justru sang istrilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.

Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu-biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Namun, cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai. Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru.

Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini,” kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi di antara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya, ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, “Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi, kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, namun kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!”

Oleh :  Anis Matta

PEDEKATE.. iuuuuhhhh

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
“Jazakillah ukhty, atas shalat Isya berjamaahnya tadi. Sangat terkesan sekali bagi saya.”

Seorang akhwat menerima SMS itu malam hari, di saat ia sedang berupaya memejamkan matanya. Ia bingung, apakah harus menjawab SMS ini ataukah membiarkannya. Karena terus terang, pengirim SMS itu adalah seorang ikhwan yang menjadi imam shalat Isya di kampus tadi. Kebetulan waktu itu, mereka hanya berdua, dan harus shalat Isya’ berjamaah.
Dalam hati ukhty itu bertanya-tanya. “Kenapa berkesan? Bukankah setiap shalat haruslah berkesan? Kenapa berkesan? Apakah ia tidak khusyuk dalam shalatnya? Ataukah karena aku makmumnya?” Akhirnya dengan berat hati akhwat itu membiarkan SMS itu tanpa balas.
Beberapa menit kemudian hape nya kembali berdering. Saat ini hanya misscall, dan bisa ditebak siapa yang misscall. Selain pulsa nelpon juga mahal, ikhwan itu ingin memberi isyarat, kenapa SMS-nya tidak dibalas. Si Akhwat tetap bersikukuh tidak menjawabnya, karena menurutnya si Ikhwan berlebihan dan tidak pada tempatnya. Akhirnya hape-nya kembali berbunyi, sebuah gambar bertanda Amplop nongol di layar hapenya. Dibuka dan dibacanya,
“Semoga ukhty diberi kenyamanan hati dan diberkahi Allah Ta’ala malam ini. Dan mudah-mudahan bisa shalat malam nanti. Selamat bobo dan mimpi yang indah. Dari saudaramu seperjuangan.”

Akhwat ini senyam senyum tak ada habisnya. Ia semakin tahu seberapa kualitas ikhwan ini. Ia jadi ragu apakah ia “Ikhwan ataukah Bakwan”. Menurutnya SMS semacam ini tidaklah perlu disampaikan. Meski terlihat menasehati dan baik-baik saja, tapi ia berpikir SMS semacam ini adalah sebentuk zina hati yang terselimuti dakwah yang sudah tidak pada tempatnya.


Saudaraiku ukhti fillah..,Mungkin saja Anti yang membaca tulisan ini pernah mengalaminya. Mendapatkan SMS dari sosok aktivitis dakwah, apakah ikhwan atau akhwat. Ataupun dari seorang laki biasa yang engkau kenal. Awalnya mungkin hanya saling bertanya tentang kepentingan dakwah atau diskusi belajar. Persiapan sebuah tabligh akbar, rencana rapat sekolah atau memilih ketua BEM di kampus, rencana rapat tahunan organisasi keislaman, membahas kurikulum TPA atau apalah kepentingannya. Namun ternyata rasanya enak juga bisa saling berkirim SMS alias SMS-an. Apalagi kalau ternyata obrolannya nyambung banget, si ikhwan tahu perasaan si akhwat dan si akhwat pun mesam mesem tak ada habisnya menjawab SMS dari si ikhwan. Kalau sudah seperti ini biasanya SMSnya bisa ngelantur kemana-mana.
Lama-lama SMSnya pun berubah dari sms dakwah menjadi sms Merah Jambu. Mulai berani bertanya:
“Ukhty lagi ngapain? Ukhty udah makan belum. Jaga Kesehatan loh ukh. Sekarang musim hujan.”
Eh, apa perlunya si ikhwan bertanya semacam itu? Emang penting? Ia menjadi sosok yang penuh perhatian. SMSnya menjadi ngalor-ngidul tak jelas apa maksudnya. Ironisnya, si akhwat justru terbuai. Ia takluk dengan senjata ikhwan gombal ini.


Si akhwat selalu menjawab SMS itu dengan jawaban-jawaban yang sama. “Ana lagi makan akh. Akhy udah maem belum…?” Yach, setali tiga uang dech ini namanya. Sama saja kualitasnya. Mereka sama-sama menikmati SMS-an itu. Kepentingan awal sebagai SMS koordinasi dakwah melenceng menjadi berbagi perhatian antara ikhwan dan akhwat. Hemm… apa ini namanya? Ikhwan apa bakwan, akhwat apa kawat?

Hal ini nampaknya harus diwaspadai. Jangan-jangan mereka telah menyemai benih, sebelum masa tanam. Jangan-jangan mereka telah menanam cinta, sebelum waktunya. Jangan-jangan pola saling SMS-an ini menjadi cara mereka untuk saling berkomunikasi bukan dalam arti sebenarnya.
Sungguh saudariku,,SMS itu melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Dan Setan terkutuk itu berbaris-baris diujung sinyal Indosat yang engkau gunakan sebagai kartu telponmu. Setan-setan itu mengubah dari warna hitam tulisan dari si pengirim menjadi“warna merah jambu” ketika sampai pada si penerima.
DImanapaun dan kapanpun, setan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia. Maka hanya hati yang bersih saja yang mampu menepis bujukan sesatnya.
SMS PDKT-kah?



Ikhwan tentu saja memiliki niat saat mengirim SMS itu. Awalnya mungkin niatnya baik sebagai sebuah nasihat yang baik. Tapi karena setan memang sangat licik, akhirnya jurusnya mulai mempengaruhi si ikhwan. Selain itu juga karena lampu hijau yang ditunjukkan oleh si akhwat sendiri.
Oleh karena itu, kita harus mulai memperhatikan persoalan ini. Harus dibedakan manakah yang benar-benar SMS murni nasihat, ataukah semata hanya kedok saja. Mereka yang semata ingin memberi nasehat tidak akan berpanjang-panjang dalam SMS-an. Bila dianggap sudah cukup, maka tidak perlu dilebar-lebarkan. Bila dengan SMS 10 kata sudah cukup, kenapa harus memakai 20 kata? bukankah itu kemubaziran..??
Menjawab SMS secukupnya sesuai dengan yang dibutuhkan. Lagipula sebenarnya dalam hati kecil kita sebagai seorang ikhwan dan akhwat bisa dengan mudah mendeteksi apakah SMS kita sudah melenceng ataukah masih lurus-lurus saja. Kita adalah manusia dewasa yang sudah bisa membedakan mana yang baik-baik saja dan mana yang sudah berlebihan.
Bagi para akhwat sebaiknya tidak memberikan ruang yang lebar kepada para ikhwan. Bila SMS ikhwan sudah mulai tidak bener, maka lebih baik dicuekin saja. Tidak perlu dibalas dengan kata-kata pedas. Karena sekali dijawab, ikhwan akan merasa mendapatkan lampu hijau. Dan perlu diketahui, ikhwan sangat tahu bahwa akhwat suka sekali bila diperhatikan. Karena itu merupakan tabiat para wanita pada umumnya. Mereka suka diperhatikan..!! Jadi bagi ikhwan yang bermental bakwan mereka rela membeli pulsa isi ulang sebanyak mungkin dan dibela-belain mencari program SMS murah demi memberi perhatian ini.


Bagi para ikhwan, saya berharap Antum tetap menjadi sosok yang tangguh. Antum sangat mungkin menjadi pihak yang agresif. Tapi Antum juga sangat mungkin menjadi pihak yang dikejar. Hape Antum tiba-tiba berbunyi terus karena misscall orang tak dikenal sepuluh kali mungkin. Jangan Ge Er dulu, belum tentu itu dari akhwat. Boleh jadi dari nomer nyasar yang ingin menagih utang. Bila antum mendapat SMS yang ‘gimana gitu’ dari akhawat, sebaiknya dijawab dengan bijaksana dan secukupnya saja. Selain karena memang pulsa masih mahal, hal itu akan menjaga Muru’ah (harga diri) antum di depan Allah SWT.


Jadi, kalau memang antum jatuh cinta dan ingin pedekate, nyatakanlah terus terang, lebih sopan dan jantan bila antum menempuh jalur Ta’aruf, ajukan proposal itu kepada si akhwat jika antum benar-benar bermental seorang ikhwan, bukan Bakwan !Tidak dengan SMS an berlama-lama yang tidak jelas kepentingannya.

Afwan dan terimakasih..
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam

Gambarimasssuuuuuu!!! \\(^-^)//

Up on the rooftop, I look to the sky, the sun's rays are beautiful,
I look up to the sky, and my whole body feels full of energy!

I'm living! Its so wonderful!
I just can't stop, so I'll give up trying to.

Good-bye to yesterday as it darkens out,
These feelings keep bubbling up to the top,
No matter how many times they revive, let the flowers bloom!
Memories are always a sweet escape,
But you must cut them off to live on to tomorrow,
And when blessings finally come your way,
spread your arms out wide!

The lovely, soft form has yet to reach your hand,
But if you close your eyes, you'll see good images.

I'm living! Its so wonderful!
I just can't stop, I wanna see what happened first!

Days of anger just go on and on to wherever,
Going back and forth between heaven and hell,
No matter how many times they revive, let the flowers bloom!

Run! Run! Until love is in your grasp!
If that makes you worry, turn to hope,
And when blessings finally come your way,
spread your arms out wide!

Good-bye to yesterday as it darkens out,
These feelings keep bubbling up to the top,
No matter how many times they revive, let the flowers bloom!
Memories are always a sweet escape,
But you must cut them off to live on to tomorrow,
And when blessings finally come your way, spread your arms out wide!

Spread your arms!
Raise both hands!

Rabu, 01 Juni 2011

Percepatan Amal

Assalamu’alaikum warah matullahi wabarakatuh..
Bismillahirrahmanirrahiim..
Saudaraku, sekarang saya mau berbiacara tentang PERCEPATAN AMAL.

Sering kali, dalam waktu 24 jam sehari percepatan diri kita mengukir prestasi amal saleh seringkali kalah dengan percepatan kita mengukri kelalaian. Berapa banyak sih waktu yang kita habiskan untuk beribadah, berdzikir, bertafakur, berpikir atau berdakwah bila dibandingkan dengan waktu kita untuk bersenda gurau, pesta pora, makan, tidur, melamun hingga sibuk mengejar kenikmatan dunia? 50:50? 30:70? Atau malah 10:90?
Dari yang sedikit pun bisa jadi tak cukup kuat pula kualitasnya. Padahal, ibarat emas, amal tak hanya cukup diukur dari banyak atau beratnya namun juga dari seberapa murni kualitas (karat)nya. Bagaimana jadinya coba bila sholat yang tak khusyuk, sedekah yang tak ikhlas, membaca qur’an yang tak rutin, wakaf yang riya’, senyum yang palsu, ketaatan yang terpaksa, terus saja bersandingan dengan iri yang dipupuk, dengki yang mengakar, marah yang membara, hasut yang meluas, takabur di hadapan para manusia saat berkumpul di dalam majelis, hingga ghibah yang rutin dan intensif? (asal tahu saja, biang ghibah itu ternyata bukan hanya di kalangan ammah, tapi juga para ikhwah). Apa tidak akan tekor bila kelak ditimbang berbandingan?

Manusia yang bangkrut di hari kiamat, jelas Rasulullah adalah mereka yang datang dengan sejumlah pahala kebaikan namun habis dipakai untuk menomboki dosa dan salah mereka. Lantas, bagaimana nasibnya mereka yang datang dengan amalan sedikit, tidak purna pula? Heuuuh… Na’udzubillahi min dzaalik..

Waktu, yang bergulir, memang tidak akan pernah datang kembali. Maka merugilah kita semua bila tak pandai memanfaatkan waktu dan mengelolanya agar setiap helaan nafas tak menjadi sia-sia. Allah berfiman:
..manusia adalah sosok yang merugi kecuali mereka yang beriman, beramal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran” (QS:103:3)
Ada beberapa upaa untuk membukukan amalan saleh kita, agar kita tak menjadi sosok merugi di yaumil akhir nanti. Pertama, amal saleh ini tentu harus dimunculkan secara berkualitas, murni laksana emas 24 karat, dan ini hanya bisa diperoleh dengan cara mengikhlaskannya semata-mata karena Allah. Dalam keadaan berat maupun ringan, miskin ataupun kaya, suka atau terpaksa, berpotensi dipuji atau dicaci manusia. Semua tak jadi masalah, karena toh landasan dasarnya “hanyalah” keinginan memperoleh ridho-Nya.
Kedua, amalan ini mestinya diupayakan berlangsung secara rutin, berkesinambungan, tak kenal kata lelah, bosa atau malas. Sekalipun kecil saja nampaknya dalam ukuran keseharian. Rasullah SAW saja menjelaskan:  
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara teratur (Kontinu) meskipun hanya sedikit (HR Bukhari). 
Oleh karena itu, jangan anggap enteng seratus dua ratus rupiah yang kita infaqkan pada kencleng masjid di dekat pasar setiap hari. Ataupun “sekedar” memaafkan semua kesalahan orang lain menjelang tidur. Kecil sih, tapi bila dilakukan secara tulus, ikhlas, dan rutin tentu menjadi besar nilainya di mata Allah.
Ketiga, jangan biarkan momen-momen keutamaan yang bisa menjadi ladang percepatan amal saleh lewat begitu saja. Sunnah-sunnah yang dianjurkan dan memiliki keutamaan tersebar di berbagai kesempatan. Di antaranya qiyamullail, sholat dhuha, shaum 3 hari di tengah bulan (ayyaumul Bidh), dzikir di pagi hari dan petang, bersedekah, silaturrahim hingga tilawah qur’an yang pada pembacaan setiap hurufnya Allah janjikan 10 kebaikan bagi diri manusia.
Itu masih di hari-hari biasa. Apalagi bila diukur pada satu momen istimewa , Ramadhan, yang memberi peluang percepatan amal saleh lebih besar dan lebih banyak lagi sesuai dengan janji Allah SWT akan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Memang, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita esok hari. Maka menyiapkan bekal amal saleh adalah upaya logis agar kita tidak terperosok menjadi sosok merugi, apalagi bangkrut, di masa ‘pensiun’ dari dunia nanti. Sesuai dengan sabda Nabi SAW,
“Sesungguhnya orang yang cerdas bukanlah orang yang banyak akalnya, tetapi orang yang sibuk mempersiapkan bekal akhiratnya”
Ayoo… semangat melakukan percepatan amal!! Jangan sampai, saat Malaikat Hafadzah membawa amalan kita –sebagai pemilik amal- ditampar wajahnya oleh setiap malaikat penjaga pintu langit, lantaran minim amalan-amalan yang membawa kita menuju syurgaNya sebab habis untuk menomboki dosa dan salah kita.
Kalau menyiapkan deposito demi pendidikan kita atau keluarga kita di masa depan saja kita bisa gigih betul, apalagi mengumpulkan deposito kebaikan demi kesejahteraan hidup yang nanti.

Selasa, 17 Mei 2011

Awas! Akhwat Dilarang Jatuh Cinta!!

Galau gak sih bila ditulis judul seperti itu?

Akhwat dilarang jatuh cinta?? lha memang siapa saya yang berani melarang seseorang untuk jatuh cinta?
apalagi seorang akhwat? yang kita tahu penampilannya kan membuat lembut hati,
yang kita iyakan hijab yang menutupi tampilan tubuhnya menenangkan jiwa,
yang senantiasa melantunkan dzikir hanya untukNya,
yang mencintai saudara-saudarinya just because of Allah Azza wa jalla.

kenapa mereka dilarang untuk jatuh cinta?
bukankah cinta adalah fitrah manusia?
tak pantaskah akhwat jatuh cinta?
bukankah mereka juga punya hati dan rasa?

tapi pernah gak berpikir apakah cinta yang ditautkan pada hati seorang akhwat itu murni?
bersih karena hanya ditautkan untuk Sang Terkasih? yang benar memberikan kecintaan yang paling
sejati di muka bumi?
sudah yakin? pasti? bahwa cinta itu hanya untuk Allah Azza Wajalla?
saat matanya tak jauh memperhatikan lelaki yang belum sah untuknya..
saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya, dan bayangan tersebut selalu bergelayut dalam alam fikirnya?


memang cinta itu indah, indah untuk hati yang sedang berbunga, halal bagi mereka yang sudah mensahkan hubungannya di atas perjanjian Ijab Qabul yang disaksikan seluruh orang yang hadir pada pernikahan mereka dan penghuni langit 'Arsy. 
memang cinta akan membuahkan permata rindu, bagi dia yang diizinkan untuk kita lihat wajah teduhnya lekat-lekat, tapi itu surga bagi dia yang sudah menikah, bukan untuk para lelaki bujang yang belum sah untuk menatap kita, melihat hijab kita.


kenapa bisa akhwat jatuh cinta, tapi salah menempatkan cintanya?
biasanya berawal dari terbukanya pembicaraan yang terlalu bebas antara laki-laki dan perempuan, ikhwan dan akhwat,
kemudian berlanjut pada sms-an tausiyah penggugah hati, balas membalas sms yang tiada henti dan senyam senyum yang tak jelas artinya di setiap malam,
telepon-teleponan hingga penghujung malam, mengalahkan kokok ayam..
membuat mereka terlena dan lupa untuk bermunajat padaNya di sepertiga malam.

tahap selanjutnya, memberikan bantuan-bantuan kecil maupun besar.
memberi pinjaman jaket bagi akhwat yang sedang kedinginan, atau khawatir bila akhwat jatuh sakit dan ingin memberikan 'kehangatan' itu lewat jaket yang dipinjamkannya.
akhwat pun merasa Ge Er saat jaket itu spesial hanya dipinjamkan kepadanya, tidak ke yang lain.

keakraban demi keakraban, pinjam meminjam hingga barang yang mungkin agak sedikit pribadi pun dipinjamkan.
setelah itu berlanjut pada pernyataan 'kenyamanan', setelah itu pernyataan cinta yang membuat sang akhwat jatuh cinta, setelah itu tralala trilili...
mereka rela menjual perasaan dan hatinya yang berharga, rela menggadaikan cintaNya hanya untuk cinta manusia yang semu.. na'udzubillah..

Huff, miris bila mendengar kisah mereka para akhwat yg jatuh salah menempatkan cintanya,
yang rela menyingkap hijabnya karena terenyuh atas rayuan gombal pria yang mengatakan mencintainya dan berjanji akan menikahinya suatu saat nanti. atau memberikan pertanyaan aneh: Don't u wanna be a part of my life then? *iuuuuuuhhh*

geli melihat mereka yang saling membasuh wajah di depan khalayak yang sebenarnya mereka tahu bahwa tak pantas mereka melakukannya.
geram saat melihat tubuh mungil itu digelayuti oleh lingkaran pelukan lelaki kasmaran yang menjanjikan akan terus mendampingi si akhwat hingga akhir hayat, dan tak kan melihat wanita lain masuk dalam daftar cintanya, karena lelaki itu bilang ia bersungguh-sungguh mencintai sang akhwat.
 
ya Allah akhwat, tak bisakah kita belajar dari ananda Fatimah Azzahra radhiallahu'anha, yang pandai menyembunyikan rasa cintanya kepada Ali bin abi Thalib radhiallahu'anhu, hingga akhirnya Allah menghadiahkan Ali sebagai pendamping hidupnya hingga akhir hayatnya?
tak mengertikah kita bahwa Allah sudah menuliskan dia yang akan menjadi imam dan pendamping kita di Lauh MahfudzNya, jauh sebelum bumi Allah ini Ia ciptakan?

pernahkah para akhwat itu berpikir bahwa hati mereka lebih berharga dibandingkan harus diberikan kepada lelaki penuh rayuan, penuh memuji padahal tak harus banyak memuji, memberikan perhatian lebih pada batas kewajaran, tapi belum tentu dialah yang akan menjadi imamnya?

harusnya malu, saat hijab ini melekat dan menutupi auratmu, lalu kau dengan sukarelanya membiarkan itu tersingkap dan diperlihatkan kepada lelaki yang hanya berikrar bahwa ia berjanji akan menikahimu tapi belum tentu Allah juga berkehendak seperti itu.

lantas? apa jadinya hati seorang akhwat itu, ketika tiba-tiba lelaki itu mencampakkannya.
mengatakan bahwa hubungan sudah tidak cocok lagi dan tidak akan mungkin perasaan - perasaan itu menyatukan dua insan tersebut?
yang lebih parah lagi adalah saat lelaki itu mengatakan alasan pemutusan hubungan tersebut adalah karena ingin merubah diri menjadi diri yang lebih baik dan hanya ingin menunggu takdir dari Allah untuk wanita yang memang Allah gariskan untuknya, namun di perjalanan mata tak jauh dari melirik akhwat yang lebih 'sempurna' penampilannya. Na'udzubillahi min dzalik.

bayangkan bagaimana jiwa yang terguncang, hati yang tersakiti, perasaan bersalah dan menyesal yang berkecamuk, karena merasa sudah dicampakkan?
penderitaan yang tiada henti , kegelisahan, dan air mata penyesalan yang tiada henti atas cintaNya yang ternodai.

STOP ukhti!!! bagi kalian yang sudah pernah merasakannya, matikan rasa-rasa itu secepatnya!
jadikan ini ujian dari Rabbmu..
Matikan rasa itu secepatnya! secepatnya!
Pasang tembok pembatas antara kau dan dia..
Pasang duri dlm hatimu agar rasa itu tak tumbuh bersemai..
Cuci dgn air mata penyesalan akan hijab yg tersingkap..
Putar balik kemudi hatimu, agar rasa itu tetap terarah padaNya..
Pupuskan rasa rindu padanya dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan cinta Rabbmu..


bagi kalian yang belum pernah,
isi hati dengan selalu dzikir padaNya,
beristighfar sebanyak mungkin
untuk menghapus hasrat-hasrat yang mungkin pernah tertancap dalam fikir.
Biarkan Allah yang mengaturnya.
Karena skenario Allah Maha Luar Biasa indah..
tapi kitanya saja yang suka ngeyel dan memaksakan kehendak.

Bila akhwat tahu, Allah itu Maha cemburu. Marah saat hambaNya meletakkan cintanya tidak pada tempatnya, tidak untuk Sang Pencipta.. padahal Allah sudah memperingatkan dalam firmanNya:
 "Dan katakanlah pada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat.........." (QS: 24: 31)
Lagipula, masih banyak agenda da'wah yang menunggu kita untuk membahasnya dan mengkonkretkan gerakannya, ketimbang harus mempersoalkan tentang jatuh cinta. ;)
Tenanglah ukhti,, tulang rusuk tak kan tertukar kok.. :)


untuk kalian para lelaki, para ikhwan, kaum adam yang mendadak menjadi pujangga..
hapus rencana jahat kalian yang mengatasnamakan cinta,
STOP mendekati perempuan yang belum sah menjadi milikmu yang belum tentu Allah takdirkan untukmu..
Gak ada tuh yang namanya main take-take-an
bila sudah ada niat dan sudah siap ya maju, khitbah secepatnya, segerakan akad!!
kalau hanya niat namun belum siap ya relakan sajaaaa...!
bukankah benar apa kata Salim A Fillah sesuai kisah Ali r.a:
"Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan"

 Lagipula, tegakah kalian melihat akhwat yang sudah pernah kalian iming-imingkan ikatan pernikahan, lantas kalian campakkan begitu saja, karena sudah tak ada lagi rasa itu di dalam hati kalian?
Asal kalian tahu, banyak para akhwat itu yang akhirnya putus asa, larut dalam penyesalan, hilang dari dunia karena tak ingin aibnya menodai pernikahan yag harusnya suci mereka dapatkan. lantaran dahulu mereka rela memberikan kesucian hijab itu kepada laki-laki tak bermoral. yang mengatasnamakan iman.. na'udzubillah..
Bayangkan itu adalah saudara kandung perempuan kalian sendiri!!



kalo saya, saya tak ingin jatuh cinta, karena "jatuh" itu menyakitkan!! saya hanya ingin membangun cinta bersama ia yang akan datang nantinya. karena membangun cinta itu indah, terutama cinta karena Allah.